Rara dan Jalan yang Tidak Pernah Sampai

Hujan selalu datang tanpa permisi di kota kecil ini. Seperti ingatan tentang ibu yang kadang muncul begitu saja di sela-sela menyusun buku, tanpa aba-aba, tanpa bisa ditolak. Rara menyeka debu dari punggung sebuah buku tua bersampul kain lusuh, dan butir-butir debu itu beterbangan seperti kenangan yang enggan menetap.

Toko buku itu bernama Aksara Senja, nama yang terlalu indah untuk tempat yang hampir tidak pernah disinggahi pembeli. Tiga tahun sudah Rara bekerja di sini, mewarisi kunci dari Pak Harun yang entah ke mana perginya. Atau mungkin ia tidak pernah benar-benar bekerja. Ia hanya menunggu. Menunggu seseorang masuk, menunggu hujan reda, menunggu jawaban yang tak kunjung tiba.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pagi itu, di antara tumpukan buku filsafat yang sudah menguning, tangannya menyentuh sesuatu yang asing. Sebuah buku tanpa judul di punggungnya, tanpa nama pengarang di sampulnya. Sampulnya berwarna kelabu seperti langit sebelum badai, dan ketika dibuka, halaman pertamanya hanya memuat satu kalimat yang ditulis dengan tinta hitam pekat:

Orang yang membaca buku ini akan bertemu dirinya sendiri pada akhir jalan.”

Rara menutup buku itu, lalu membukanya lagi. Kalimat itu tetap di sana, diam dan sabar, seperti seseorang yang sudah terlalu lama menunggu. Jantungnya berdegup pelan. Bukan karena takut, melainkan karena ia merasa kalimat itu ditulis khusus untuknya, untuk seseorang yang setiap senja berjalan tanpa tahu apa yang sedang dicari.

Senja di kota kecil ini selalu berbau tanah basah dan jerami. Rara berjalan menyusuri jalan setapak di pinggir sawah, jalan yang sudah ia lalui ratusan kali namun tak pernah terasa sama. Pepohonan trembesi tua berdiri di kiri-kanan seperti penjaga yang sudah melampaui waktu, akar-akarnya mencengkeram tanah dengan kesabaran yang tak dimengerti manusia. Langit berubah warna perlahan, dari jingga ke ungu, dari ungu ke kelabu, seperti kehidupan yang tak pernah berhenti berganti meski tak seorang pun memintanya.

Hidup tidak pernah menawarkan peta, hanya langkah yang harus terus diambil.

Buku tanpa judul itu dibawanya dalam genggaman. Ia tidak tahu mengapa membawanya, sama seperti ia tidak tahu mengapa setiap hari ia berjalan ke arah yang sama. Mungkin karena manusia adalah makhluk yang selalu berharap menemukan sesuatu, bahkan ketika ia tidak tahu apa sesuatu itu.

Suara kereta terdengar dari kejauhan, melenguh panjang seperti binatang malam yang kesepian. Rara berhenti sejenak, memandang rel kereta yang membelah kota kecil ini menjadi dua, sebelah timur yang ramai, sebelah barat yang sunyi. Ia tinggal di sebelah barat, bersama para janda tua dan rumah-rumah yang catnya mengelupas dimakan usia.

“Kau berjalan terlalu cepat.”

Suara itu datang dari belakang. Rara menoleh dan mendapati seorang anak kecil duduk di bawah pohon trembesi, kakinya yang telanjang berlumur tanah. Anak itu menatapnya dengan mata yang terlalu teduh untuk usianya.

“Orang dewasa selalu berjalan terlalu cepat,” lanjut anak itu, “sampai lupa melihat langit.”

Rara mendongak. Langit senja itu begitu luas, begitu dalam, seperti lautan yang dibalikkan. Sudah berapa lama ia tidak benar-benar melihatnya?

“Kau mau ke mana?” tanya Rara.

Anak itu tersenyum. Senyum yang aneh, senyum yang seperti sudah mengenalnya sejak lama. “Aku tidak ke mana-mana. Aku sudah di sini. Justru kaulah yang terus berjalan tanpa tahu kau sebenarnya sedang mencari apa.”

Rara ingin menjawab, tetapi anak itu sudah berdiri dan berjalan ke arah sawah, langkahnya ringan seperti kapas. Dalam hitungan detik, ia lenyap di antara batang-batang padi yang mulai menguning. Yang tertinggal hanya suara jangkrik yang mulai menyanyi, dan pertanyaan yang menggantung di udara lembap.

Hari-hari berikutnya, pertemuan itu terus menghantui Rara. Setiap kali ia menyusun buku di toko, bayangan anak kecil itu muncul di sudut-sudut ruangan. Setiap kali ia mendengar langkah kaki di luar, ia berharap itu adalah seseorang yang akan membeli buku, tapi toko itu tetap sepi, seperti gereja tua yang ditinggalkan jemaatnya.

Kesepian bukanlah ruang kosong. Ia adalah cermin yang memantulkan suara-suara yang selama ini kita abaikan.

Suatu sore, ketika hujan baru saja berhenti dan udara berbau tanah dan akar, Rara kembali berjalan. Kali ini ia membawa payung yang tidak dibukanya, membiarkan sisa-sisa gerimis menyentuh kulitnya. Ia ingin merasakan sesuatu yang nyata, sesuatu yang bisa mengingatkannya bahwa ia masih hidup, bahwa ia masih punya tubuh yang bisa basah dan kedinginan.

Di tengah jalan, di bawah trembesi yang sama, seorang lelaki tua duduk di atas batu. Punggungnya bungkuk, rambutnya putih seperti kapas, dan di tangannya ada sebatang ranting yang ia gunakan untuk menggambar sesuatu di tanah.

“Mencari sesuatu, Nak?” tanyanya tanpa menoleh.

Rara berhenti. “Saya tidak tahu,” jawabnya jujur.

Lelaki tua itu terkekeh. Suara tawanya serak, seperti daun kering yang diinjak. “Bagus. Orang yang tidak tahu apa yang dicari justru lebih dekat pada kebenaran. Mereka yang merasa tahu biasanya hanya menemukan bayangan mereka sendiri.”

Ia menunjuk gambar di tanah. Rara mendekat dan melihat sebuah lingkaran, tidak sempurna, sedikit lonjong, dengan satu garis yang memotongnya di tengah.

“Tahukah kau apa ini?” tanya lelaki tua itu.

“Lingkaran?”

“Ini hidup.” Ia menyentuh garis yang memotong lingkaran itu. “Manusia selalu mengukur hidup dengan umur, seolah-olah hidup adalah garis lurus dari lahir ke mati. Padahal hidup adalah lingkaran. Ia tidak diukur dengan panjang, melainkan dengan kesadaran. Seberapa sadar kau menjalani setiap putarannya.”

Tinggalkan Balasan