Kemuliaan Ibu dalam Islam

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu.” (QS. Lukman: 14)

Setiap tanggal 22 Desember, kita memperingati Hari Ibu. Tanggal ini diresmikan oleh Presiden Soekarno melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959, bertepatan dengan ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia 1928. Tanggal tersebut dipilih untuk merayakan semangat wanita Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Kongres Perempuan Indonesia sebagai momentum agar kita menyadari bahwa peran perempuan (baca: ibu) sangat penting dalam membawa kesejahteraan bangsa.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Di dalam Islam, kedudukan seorang ibu adalah mulia. Hal ini dapat kita pahami, mengingat seorang ibu merupakan sosok yang begitu tabah dalam menghadapi kepayahan bahkan harus meregang nyawa demi melahirkan seorang anak. Sebelumnya, seorang ibu setidaknya selama 9 bulan mengandung atau hamil dengan segala kondisi yang tidak dapat dirasakan oleh orang yang bukan ibu. Setelah si bayi lahir, ibu masih harus berjuang dengan segala risiko lelah, penat, dan kesibukan mengurus si cabang bayi. Itu semua diberikan oleh ibu dengan penuh keikhlasan, tanpa pamrih, serta dilakukan dengan penuh cinta dan rasa kasih sayang.

Menurut al-Quran, Surat al-Lukman ayat 14 di atas, ada tiga persoalan yang dihadapi seorang ibu. Pertama, mengandung atau hamil selama kurang lebih 9 bulan. Dalam menjalani proses kehamilan, seorang ibu akan dihadapkan pada serangkaian lelah atau payah yang harus ditanggung (dalam bahasa al-Quran, payah yang bertambah-tambah). Namun, ibu tetap tabah dan sabar dalam menghadapi kenyataan ini.

Kedua, ibu harus menanggung sakit yang tak terperi ketika melewati proses kelahiran. Mengorbankan jiwa dan raga demi anak tersayang, demi generasi masa depan yang lebih baik. Ketiga, mengasuh seorang anak yang masih belia, tentu saja membutuhkan pengorbanan dan kesabaran. Membersihkan kotoran, harus bangun di saat orang lain terlelap, serta menjaga si jabang bayi agar tetap nyaman dalam pelukan.

Kemuliaan Ibu

Begitu besarnya pengorbanan seorang, hingga Islam mendudukkan posisi ibu di tempat sangat terhormat. Rasulullah bersabda, “Surga itu terletak di bawah telapak kaki ibu.” (HR. An-Nasi, Ahmad bin Hambal, dan Ibnu Majah).

Hadits ini sudah sangat masyhur di kalangan umat Islam. Meskipun terdapat perbedaan pendapat terhadap status hadits tersebut, namun secara makna termasuk dalam hadits sahih (sahih lidzatihi). Karena itu, berhujah dengan hadits tersebut tidak apa-apa, karena keterangan tentang kamuliaan seorang ibu banyak disebutkan, baik dalam al-Quran maupun hadits lainnya

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, dikatakan, “Seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakan aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi SAW menjawab, ‘Ibumu’. Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi SAW menjawab ‘Ibumu’. Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab ‘Ibumu’. Orang tersebut bertanya kembali, ‘ Kemudian siapa lagi,’ Nabi menjawab ‘Kemudian ayahmu.’” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits di atas menjelaskan dengan gamblang bahwa seorang ibu tiga kali lebih utama daripada seorang ayah. Sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Qurthubi, “Keutamaan ibu tiga kali lebih utama dibandingkan seorang ayah.” Hal ini dikarenakan pengorbanan dan kasih sayang seorang ibu yang tidak dapat dibandingkan dengan nilai apa pun juga. Derita dan kelelahan seorang ibu jauh melebihi kelelahan dan kepayahan seorang ayah.

Dalam sebuah riwayat hadits, Rasulullah bersabda, “Rida Allah terdapat dalam rida kedua orangtua (ibu bapak) dan murka Allah terdapat dalam murka kedua orangtua.” (HR At-Tirmidzi).

Tinggalkan Balasan