Pada sebuah pojok kota yang resah, kutemukan selembar kertas yang baru lepas dari terpaan angin yang gerah. Sepertinya sebuah surat yang tak beralamat. Aku duduk menyendiri, membacanya. Begini isinya:
Untuk lelakikecilku…

Aku baru paham kenapa calon ibu tirimu dulu, bertahun-tahun lalu, suka menyendiri ke kota kecil itu. “Aku cuma ingin mendengar suara lonceng. Tak lebih,” jawabnya setiap kali kutanya.
Dan karena itu ia tak pernah menjadi ibu tirimu. Kami selalu berselisih soal di kota mana kami akan menetap. Ia menginginkan tinggal di kota kecil itu. Dan aku berpikir, kita cuma akan membuang-buang waktu hidup di kota yang tak pernah menjanjikan banyak hal.
