Pak Lap

Selalu, sebelum pembeli pertama datang, lelaki itu tiba lebih dulu. Terkadang, lelaki yang umurnya kira-kira tiga puluh tahun itu sudah tiba di situ sebelum keluarga Pak Cipto menggelar dagangannya. Tetapi, yang lebih sering, atau biasanya, ia baru tiba sesaat setelah keluarga Pak Cipto mempersiapkan segalanya. Keluarga Pak Cipto yang terdari dari lima orang, tiga perempuan dan dua lelaki, bekerja sebagai penjual sate kambing. Di sekitar dua puluh lima meter sebelah timur perempatan jalan sebuah kota kecamatan, saban hari mereka menggelar dagangannya.

Menjelang maghrib, anak-anak Pak Cipto yang lelaki biasanya datang lebih dulu. Mereka memasang tenda, menyiapkan tungku pembakaran, dan menata meja dan kursi di atas trotoar yang sebenarnya diperuntukkan bagi pejalan kaki. Setelah itu mereka pulang. Selepas maghrib anak-anak Pak Cipto datang lagi. Yang laki-laki mendorong gerobak dagangan dan yang perempuan membawa persediaan daging beserta bumu-bumbunya.  Saat persiapan sudah cukup dan daging dalam kondisi siap dibakar itulah, entah dari arah mana, biasanya lelaki itu muncul.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Begitu muncul, biasanya lelaki itu langsung duduk di trotoar, di sisi barat stan penjual sate itu. Penampilan sehari-harinya juga khas. Lelaki itu selalu mengenakan kaus oblong dan celana pendek kolor yang sudah lusuh. Tangan kanannya selalu menggenggam sepotong kain, yang jujga sudah lusuh. Melihat kondisinya, tampak sekali lelaki yang rambutnya di-plontos itu jarang mandi.

Keluarga Pak Cipto tak pernah menghiraukan kehadiran lelaki itu. Mungkin, bagi keluarga Pak Cipto, lelaki itu hanyalah salah seorang dari sekian banyak gelandangan atau orang gila yang selalu datang dan pergi di pusat kota kecamatan itu. Karena itu, tidak ada keharusan bagi mereka untuk memperhatikan atau paling tidak mengenal siapa sebenarnya lelaki itu. Meskipun, lelaki itu selalu berada di tempat itu sejak awal mereka membuka stan warung sate lebih dari setahun lalu.

Sebenarnya, sesekali anak-anak Pak Cipto melihat apa yang dilakukan lelaki itu. Namun, mereka tak pernah menghiraukannya. Begitu pembeli pertama yang mengendarai sepeda motor tiba, lelaki itu beranjak. Bukan si pembeli sate yang dihampiri, melainkan menuju di tempat mana sepeda motornya diparkir. Namun tetap, tak hanya kehadiran lelaki itu yang tak menarik perhatian keluarga Pak Cipto, melainkan juga apa yang dilakukannya. Dan, memang, lelaki itu tak pernah melakukan sesuatu yang mengganggunya.

Setelah mendekati sepeda motor yang diparkir, lelaki itu dengan santai dan sesekali mengulum senyum, mengelapnya dengan sepotong kain atau serbet yang digenggamnya. Dan begitu pembeli bersepeda motor kedua datang, lelaki itu meninggalkan sepeda motor pertama, kemudian mendekati sepeda motor yang baru tiba. Juga dengan santai dan sesekali mengulum senyum, dengan kain yang digenggamnya, lelaki itu mengelapnya. Dan begitulah seterusnya terhadap sepeda motor pembeli sate yang datang kemudian.

Semula, saat kali pertama hal itu dilakukannya, orang-orang merasa curiga dan menegurnya. “Ah, saya hanya ngelapi sepeda motor sampean, biar kelihatan bersih. Kalau sampean tak keberatan, saya mau diberi uang limaratus atau seribu saja,” jawab lelaki itu ringan sambil meneruskan pekerjaannya.

Akhirnya, bagi mereka yang sudah menjadi pelanggan sate di situ, kehadiran dan apa yang dilakukan lelaki itu tak menjadi masalah. Malahan, tidak jarang pelanggan sate keluarga Pak Cipto merasa senang. Begitu datang, para pelanggan ada yang langsung menghampiri lelaki itu, dan memintanya membersihkan bagian ini dan bagian itu pada sepeda motornya. Mereka juga merasa lebih aman, sebab lelaki itu selalu mengawasi sepeda motor yang baru dilapnya. Karena kebiasaannya ngelapi sepeda motor itulah, akhirnya orang mengenal dan memanggilnya dengan sebutan Pak Lap. Orang-orang memang tidak tahu siapa sebenarnya jati diri Pak Pap. Sebab, Pak Lap sendiri memang tidak pernah memperkenalkan nama aslinya, dan tidak menolak dipanggil Pak Lap. “Saya tak punya nama,” begitulah jawabannya ketika ada bertanya tentang namanya.

Namun begitu, kehadiran atau apa yang dilakukan Pak Lap bagi pembeli yang bukan pelanggan atau yang baru kali pertama membeli sate di tempat Keluarga Pak Cipto, tetap sering terasa mencurigakan. Biasanya, saat Pak Lap memegang bagian tertentu sepeda motornya, beberapa pembeli menegurnya. Tapi jawaban yang diberikan Pak Lap seperti biasanya. Para pembeli itu pada akhirnya juga mafhum. Hingga tak ada seorang pun yang merasa terganggu dengan keberadaan Pak Lap.

Semakin lama warung sate keluarga Pak Cipto kian laris. Di kota kecamatan itu setidaknya ada tiga warung sate. Namun, yang paling laris adalah warung sate milik keluarga Pak Cipto ini. Padahal, sebenarnya masakan mereka bukanlah yang paling enak. Dibanding warung lain, rasanya tak jauh beda. Biasa-biasa saja. Orang memang tak tahu persis kenapa warung sate keluarga Pak Cipto paling laris. Warung dibuka pukul 18.00, dan tiga atau empat jam kemudian biasanya sudah ditutup.

Tinggalkan Balasan