Semakin laris warung sate keluarga Pak Cipto, maka Pak Lap pun kerjanya juga semakin keras. Dan itu berarti penghasilannya meningkat. Namun, meskipun sudah lama melakukan pekerjaan ngelapi sepeda motor di situ, Pak Lap tidak pernah memaksa atau bahkan memeras. Pak Lap juga tak pernah peduli, apakah setelah membersihkan sepeda motor dia diberi uang recehan atau tidak. Diberi atau tidak dikasih uang, ekspresi atau raut muka Pak Lap tak pernah berubah. Lelaki itu selalu menampilkan wajahnya yang lugu, dan bila mengulum senyum kelihatan lucu. Suatu ketika ada orang yang bermurah hati, memberinya uang sepuluh ribu. Namun, Pak Lap tidak mengucapkan terima kasih dan ekspresi wajahnya juga tak berbeda dengan ketika dia tak diberi uang sepeser pun.
Memang tidak semua pembeli yang sepeda motornya dilapi Pak Lap memberinya uang. Bahkan, ada pelanggan yang hampir dua hari sekali makan di situ namun tidak pernah sekalipun terlihat memberi uang kepada Pak Lap. Meskipun begitu, Pak Lap tidak memperlakukannya secara berbeda. Pak Lap tak pernah membedakan antara pembeli yang selalu memberinya uang dengan yang pelit. Siapa saja yang membeli sate di situ, pasti sepeda motornya dia bersihkan. Pak Lap tidak ngelapi kendaraan lain selain sepeda motor.

Di antara sekian banyak pembeli, ada beberapa orang yang akhirnya terlihat akrab dengan Pak Lap. Bagitu bertemu, mereka saling melempar guyonan. Terhadap mereka yang sudah akrab, Pak Lap juga sering menggoda. Tapi, yang lebih sering, Pak Lap menjadi obyek ledekan.
“Lo, kok, dibawang pulang? Kan, biasanya dimakan di sini? Oleh-oleh untuk istri muda ya?” demikian goda Pak Lap kepada salah seorang pelanggan sambil tetap nangkring di atas sepeda motor yang diparkir. Biasanya pelanggan itu memang menyantap satenya di situ.
“Ah, kamu mau tahu urusan orang saja. Ini, untuk anak istrimu,” sahut lelaki paro baya yang sebenarnya juga tidak tahu apakah Pak Lap punya anak dan istri atau tidak, sambil menaruh uang kertas lima ribu persis di jidat Pak Lap. Pak Lap langsung melepas tawa dan menyodok pinggang lawan bicaranya. Uang yang di jidat dibiarkannya terjatuh.
“Nggak mau uang ya? Mana kuambil lagi….”
Pak Lap langsung memungut uangnya dan berlari mundur sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya. Pembeli sate itu menghidupkan sepeda motornya, dan mengarahkan lajunya ke tempat Pak Lap berdiri. Laju sepeda motor tak dihentikan ketika berada di depan Pak Lap, dan malah disentakkan. Sekonyong-konyong Pak Lap melompat dan mengumpat. Dengan terus melajukan sepeda motornya, pembeli sate itu berlalu sambil tersenyum penuh kemenangan. Pembeli-pembeli lain atau orang-orang yang berada di sekitarnya menikmati pemandangan itu. Tapi keluarga Pak Cipto tetap asyik dengan pekerjaannya, melayani para pembeli. Sebab, pembeli adalah raja.
Selama lebih dari setahun, tak pernah sehari pun Pak Lap absen. Selalu, selepas maghrib, Pak Lap muncul dan duduk di trotoar di sisi barat stan penjualan sate itu. Bahkan, terkadang sebelum maghrib Pak Lap sudah kelihatan di sekitar tempat itu. Sesekali, dia ada di situ atau di jalan-jalan lain di seputar kota kecamatan itu pada siang hari. Pak Lap terlihat hanya berputar-putar dan menghilang lagi. Ke mana Pak Lap menghilang, rasanya tak penting untuk diketahui orang banyak. Ada tidaknya Pak Lap tidak memiliki arti apa-apa, baik bagi orang-orang yang telah mengenalnya, pernah bertemu dengannya, atau tidak sama sekali. Kehidupan mereka akan terus berlangsung seperti biasanya kendatipun, kelak, Pak Lap tak muncul lagi.
Orang-orang yang pernah atau sering memberinya uang juga tak pernah menanyakan untuk apa uang yang diterimanya dari belas kasihan mereka atas jasa Pak Lap ngelapi sepeda motor. Padahal, melihat larisnya warung sate keluarga Pak Cipto, dalam semalam Pak Lap bisa memperoleh banyak uang.
Bila diperhatikan lebih seksama, ternyata tingkah laku Pak Lap seperti sudah terprogram dengan baku. Seperti sistem kerja robot. Sebelumnya Pak Lap hanya duduk-duduk di trotoar. Begitu pembeli pertama tiba, Pak Lap berdiri, lalu melangkah ke arah sepeda motor yang diparkir. Lalu mengelapinya. Setelah itu biasanya Pak Lap berdiri mematung atau mondar-mandir di sekitar sepeda motor yang baru dibersihkannya. Begitu pembeli berikutnya datang, Pak Lap melakukan hal serupa. Dan itu terus berulang setiap kali ada pembeli bermotor datang. Begitulah Pak Lap selama lebih dari setahun. Meskipun bukan preman, jika di kota besar, pastilah Pak Lap pernah kena razia. Sebab, Pak Lap hidup dengan jati diri yang tak dikenal, dan tidak memiliki surat-surat bukti diri seperti kartu tanda penduduk atau semacamnya. Meskipun Pak Lap tak pernah memaksa orang memberinya uang atau bahkan memeras, dari sosoknya ia akan digolongkan sebagai preman. Tapi karena perilakunya seperti robot, rasanya Pak Lap tak pernah punya keinginan melakukan tindak premanisme.
