Suatu malam, sepeda motor pembeli terakhir tiba. Pasangan muda itu baru kali pertama terlihat berada di warung sate keluarga Pak Cipto. Begitu turun dari kendaraannya, mereka langsung mengambil tempat duduk di pojok. Bagi keluarga Pak Cipto, kehadiran pasangan muda itu tak berbeda dengan para pembeli lainnya. Tapi tidak demikian bagi Pak Lap. Bukan pada orangnya Pak Lap tertarik, melainkan pada kendaraannya. Sebab, sepeda motor pasangan muda itu gres. Keluaran terbaru. Dan baru pasangan muda itulah, di antara para pembeli, yang membawa sepeda motor keluaran terbaru itu. Sepeda motor yang catnya masih berkilauan itu diparkir dekat gerobak sate. Mungkin karena masih baru, sang pemilik khawatir sepeda motornya dijahili orang.
Tidak seperti biasanya, begitu sepeda motor itu diparkir, Pak Lap tidak langsung mengelapnya. Kali ini Pak Lap terlihat berdiri mematung, dan mengamatinya dari jarak yang agak berjauhan. Agak lama, mungkin lebih dari lima menit. Mungkin Pak Lap tertarik pada kebaruannya. Selain gres, sepeda motor itu memang model terbaru. Namun karena sudah menjadi pekerjaan rutinnya, akhirnya Pak Lap mendekat dan mengelapnya. Bedanya, kali ini di sela-sela kesibukannya mengelap, mata Pak Lap terus mengamati dan kemudian memegang-megang bagian tertentu. Asyik sekali Pak Lap melakukannya.

Grobyakkk! Sepeda motor anyar itu roboh. Saking asyiknya, Pak Lap terantuk batu, tubuhnya roboh dan menimpa sepeda kotor baru itu. Pemiliknya tersentak dan langsung beranjak. Orang itu mendekati Pak Lap yang sedang berusaha membetulkan sepeda motor yang roboh ke posisi semula. Semula biasa saja. Namun, begitu melihat bagian kanannya lecet-lecet, sang pemilik langsung naik pitam.
“Heh, siapa kamu? Kurang ajar!” teriaknya sambil melayangkan tinjunya ke pelipis kiri Pak Lap. Pak Lap sempoyongan dan jatuh tersungkur. Anak-anak keluarga Pak Cipto langsung bergegas untuk melihat apa yang terjadi. Si pembeli dengan cepat membetulkan posisi sepeda motornya.
“Heh, siapa dia? Kenapa dibiarkan mengganggu kendaraan pembeli? Kalau begini caranya, saya tak akan lagi beli sate di sini,” kata-kata kasar pembeli itu diarahkan kepada anak-anak keluarga Pak Cipto. Sesaat mereka hanya saling pandang. Yang tertua kemudian berusaha menjelaskan keberadaan Pak Lap di tempat itu. Lelaki itu tetap marah, dan langsung mengajak pasangannya pulang. Sate yang baru dimakan separo mereka tinggalkan begitu saja, dan tak peduli dengan pemberiantahuan bahwa masih ada sisa uang kembaliannya.
“Heh, Pak Lap, sini kamu! Mulai besok kamu dilarang berada di sini. Dilarang mengelap sepeda motor pembeli. Mereka bisa lari semua, tahu!” bentak anak tertua keluarga Pak Cipto ketika menghampiri Pak Lap yang duduk di teras toko. “Sana, pergi!” dia menghardik. Anak tertua keluarga Pak Cipto tak hanya menghardiknya, juga menambahinya dengan sebuah bogem. Dengan langkah tertatih-tatih, Pak Lap meninggalkan tempat itu, berjalan ke arah barat.
Keesokan harinya, Pak Lap tidak muncul di tempat itu, hingga senja terpeluk malam sekalipun. Anak-anak keluarga Pak Cipto yang tampak sudah menggelar dagangannya dan daging kambing dalam kondisi siap bakar, merasa senang bahwa Pak Lap akhirnya tidak muncul lagi. Berarti, peristiwa menjengkelkan seperti kemarin malam tak bakal terulang lagi. Berarti, para pembeli dan pelanggannya tak akan terganggu lagi. Berarti, mereka tak akan kena damprat lagi oleh pembeli yang merasa terganggu dengan perilaku Pak Lap.
Sudah hampir satu jam sejak menyiapkan dagangannya, anak-anak keluarga Pak Cipto terlihat hanya duduk-duduk. Mereka puas Pak Lap tidak muncul. Namun, lama-kelamaan, mereka merasa jenuh lantaran belum melakukan aktivitas apa pun yang berhubungan dengan pekerjaannya sebagai penjual sate. Setusuk daging pun belum ada yang dibakar, meskipun mereka sudah menambah arang yang kedua kalinya di tungku.
Secara bergantian atau kadang-kadang bersamaan, anak-anak keluarga Pak Cipto menolah ke barat, ke arah trotoar, dari mana biasanya Pak Lap muncul, lalu duduk-duduk sambil menunggu pembeli pertama datang. Mereka tidak melihat Pak Lap duduk di tempat biasanya. Dan, hingga malam kian larut, mereka juga tak melihat Pak Lap beranjak dari duduknya untuk menghampiri sepeda motor yang datang, kemudian mengelapnya. Anak-anak keluarga Pak Cipto juga tidak lagi melihat ada sepeda motor pembeli pertama datang, kemudian Pak Lap berdiri, menghampiri, dan mengelapnya. Hanya sepi, meskipun malam telah larut.
