Tradisi Diba’an Kaum Santri

Pada saat saya masih menjadi salah satu santri di sebuah pesantren di Desa Nglawak, Kertosono, banyak tradisi yang dilakukan secara rutin tiap minggu di pesantren. Salah satu tradisi yang biasa dilakukan adalah pembacaan diba’iyyah atau yang biasa dikenal dengan diba’an. Dulu tradisi ini dilakukan setiap hari Kamis malam selesai jamaah salat isya. Untuk kami kaum santri, diba’an sudah tidak asing lagi dan bahkan menjadi suatu hal yang wajib dilaksanakan.

Diba’an pada umumnya adalah tradisi masyarakat Jawa yang biasa dilaksanankan dalam sebuah hajatan seperti walimatul khitan, walimatul ursy, syukuran kepulangan dan keberangkatan ibadah haji, atau biasanya dilaksanakan untuk menyambut bulan Maulid yang di masyarakat Jawa biasa dikenal dengan istilan “muludan”.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Diba’an adalah tradisi membaca atau melantunkan selawat kepada Nabi Muhammad SAW secara bersama-sama dan bergantian. Ada bagian yang dibaca biasa, namun sebagian besar dibaca menggunakan lagu. Istilah diba’an mengacu pada kitab berisi syair pujian karya al-Imam al-Jaliil as-Sayyid as-Syaikh Abu Muhammad Abdurrahman ad-Diba’iy asy-Syaibani az-Zubaidi al-Hasaniy. Kitab tersebut secara populer dan dikenal dengan nama kitab Maulid Diba’.

Tinggalkan Balasan