Novel ini seperti sebuah fiksi biografi yang mengisahkan hampir seluruh perjalanan hidup Nouri. Dari kelahirannya sampai kematiannya. Dari tempat yang membesarkannya di sebuah tempat tinggal para sufi di Tan-Arzahn, sampai ke istana, lalu hidup melemparkannya ke sebuah tanah pertanian di Spanyol, hingga ke tempat tinggal para sufi di Afrika, sampai akhirnya ia kembali lagi berpuluh tahun kemudian ke Tan-Arzahn dan mendapati Habbib, ayah angkatnya, ternyata masih hidup dan terus menanti kedatangannya.
Di usianya yang cukup muda, Nouri menyadari bahwa ia ternyata memiliki ketertarikan pada sesama lelaki dan sama sekali tidak tertarik dengan perempuan. Perjumpaan pertamanya dengan lelaki yang membuatnya jatuh cinta terjadi di tempat tinggal para sufi yang dipimpin Sheikh Bailiri di Tan-Arzahn. Lelaki itu adalah Vishpar, salah satu murid Sheikh Bailiri yang juga sedang belajar tradisi sufi. Cintanya direnggut oleh nasib buruk yang datang melalui segerombolan penyamun yang merusak rumah tinggal para sufi itu dan membunuhi nyaris semua orang. Vishpar sendiri mati di depan mata Nouri. Peristiwa itulah yang kemudian memisahkan Nouri dengan Vishpar, juga Habbib ayahnya, dan kota Tan-Arzhan.

Perjalanan hidupnya tidak pernah mudah. Sebagai seorang lelaki dengan dua pasang telinga dan ketertarikan terhadap sesama lelaki, secara alamiah ia dianggap sebagai sebuah ancaman. Kadang juga mengalami eksploitasi baik secara fisik, mental, maupun seksual. Nouri menemukan pelarian melalui tulisan.
Melalui puisi-puisi yang ia ciptakan dan tuliskan, sampai akhirnya ia menemukan kembali lelaki yang kepadanya ia mencintai dan dicintai sekaligus. Lelaki itu adalah muridnya, Ryka, yang belajar tradisi sufi kepadanya di rumah tinggal sufi pimpinan Sheikh al-Khammas di sebuah pegunungan di Afrika. Namun lagi-lagi, kematian memisahkannya dengan Ryka. Dan ketika ia sampai pada penerimaan terhadap takdir Allah yang menimpanya, ia memutuskan untuk kembali ke Tan-Arzhan yang tanpa dinyana mempertemukannya kembali dengan ayah angkatnya.
Banyak kritikus yang menyamakan novel ini seperti kisah yang ditulis Hesse seperti Siddharta atau Narcissus and Goldmund, yang menceritakan tentang pencarian spiritual dan semacamnya. Bagi saya sendiri, meskipun tidak memungkiri bahwa novel ini dinarasikan dengan cukup bagus dan memukau, novel ini tidak lebih dari sebuah novel bertema LGBT, atau gay secara lebih spesifik, yang diberi latar belakang kehidupan Islam, tradisi sufi khususnya.

Homoseksual memang tabu untuk didiskusikan, namun praktiknya???