Meskipun tak mondok di pesantren, cara belajar dan ngaji Abuya Nawi laiknya santri kalong. Bahkan, dalam sehari ia bisa belajar mengaji di tiga tempat sekaligus, masing-masing mempelajari dua atau tiga kitab. Abuya Nawi selalu dalam gairah tinggi saat belajar, tak mau kalah dengan para santri. Setiap penjelasan dari para gurunya, misalnya, selalu disimak dan dicatat dengan baik.
Berkat ketekunan dan gairah tinggi dalam menuntut ilmu dan mencari berkah itulah, dalam perkembangannya ia mengamalkan ilmunya melalui majelis taklim dan kemudian Pondok Pesantren Al-Awwabin.

Rupanya, ketekunan dan gairahnya itu tetap terbawa hingga Abuya Nawi sudah dikenal sebagai ulama. Terbukti, baik ketika sedang mengajar atau tidak, jika melihat ada santri tertidur atau malas-masalan saat mengaji, ia akan menyuruh santrinya keluar untuk cuci muka atau wudlu. Abuya Nawi tidak suka melihat ada orang yang bermalas-malasan dalam mencari ilmu dan tidak suka dengan orang yang tidak mau belajar atau mengaji.
Di kalangan masyarakat Betawi, Abuya Nawi juga dikenal sebagai “ulama antik”. Ini dikarenakan pemikirannya yang selalu sejalan dengan pemerintahan dan para ulama lainnya. Di kalangan ulama dan habaib di Tanah Betawi, nama Abuya Nawi juga sangat familiar dan menjadi salah satu ulama yang sangat disegani pada zamannya.
Hal itu terjadi lantaran dalam setiap ceramahnya Abuya Nawi tidak pernah berkata-kata kasar atau jelek, tidak pernah menghina atau mencaci orang lain. Dalam berdakwah, ia benar-benar meneladani Rasul, mengingatkan jamaahnya untuk berbuat baik kepada orang lain dan jangan pernah menghina orang lain.
