
Sebagai contoh, dari jarak tertentu, lukisan yang berjudul Merenung Seperti Gunung akan menampilkan gambar figur sesosok pria tua dalam balutan warna putih dengan latar yang berbeda. Namun, jika kita mendekatinya, figur pria tua ternyata bukan lukisan, melainkan ruang kosong dari kanvas yang di-cut out. Kita bisa kecele dibuatnya. Tapi juga bisa menawarkan ide yang berbeda untuk mengisi ruang kosong itu.
Hal yang sama bisa kita rasakan ketika memandangi lukisan berjudul Rain Cut. Di latar alam terbuka itu, kita melihat hujan turun ritmis. Sungguh, tetesan air hujan itu bukan sesuatu yang dilukis oleh Taufik Ermas. Jika kita mendekat, tetesan hujan itu ternyata hanyalah ruang-ruang kosong alias kanvas yang berlubang-lubang. Jika dinding yang digunakan memajang lukisan itu bercat putih, akan terlihat seperti hujan air. Bayangkanlah jika dindingnya berwarna merah. Hujan darahkah?


Melalui lukisan-lukisan yang dikurasi oleh Eka Novrian tersebut, tampak Taufik Ermas hendak mendekonstruksi otoritasnya sebagai pelukis di dalam kanvas. Ia menyisakan ruang kosong, dengan cara membuat ruang-ruang terbuka dalam kanvas, untuk menghadirkan ide atau gagasan lain dari para penikmat lukisannya. Setidaknya, kita diajak berpikir untuk mengisi kekosongan itu. Sebab, tak ada yang benar-benar tidak ada dalam ketiadaan.
Itulah kenapa Taufik Ermas melabeli pamerannya kali ini dengan Pronoid, yang menjadi lawan kata dari paranoid. Di sini, pronoid diartikan sebagai berpikir dan bersikap positif pada liyan atau yang lain. Pada ruang-ruang kosong, yang seringkali kita salah pahami sebagai ketiadaan, hopeless, selalu bisa dimunculkan gagasan baru, harapan baru.
