Fenomena orientasi seksual yang berbeda itu, yang dulu pernah distigma sebagai penyimpangan seksual, adalah nyata ada, faktual, dan bisa ditemukan di zaman apa pun, di masyarakat mana pun. Bahkan, pada masyarakat Indonesia yang sangat beragam ini, fenomena yang sama muncul sebagai bagian dari kehidupan komunal, diakui atau sebaliknya.
Dalam tradisi kesenian rakyat reog di Ponorogo, Jawa Timur, misalnya, istilah gemblak menunjukkan gejala tersebut. Gemblak selalu dipersonifikasi sebagai remaja yang rupawan, sedangkan warok sebagai kestaria yang kekesatriaannya akan bergantung pada relasinya dengan sang gemblak. Relasi antara gemblak dengan warok dalam reog menggambarkan adanya hubungan intim (seks) sesama jenis. Bahkan, dalam derajat tertentu, di dalamnya terdapat relasi transaksional antara warok dengan gemblak. Tradisi ini juga sudah berlangsung selama berabad-abad dan masih seperti itu hingga kini.

Fenomena yang mirip juga ada pada ludruk, kesenian rakyat dari Jawa Timur. Pada mulanya, pemeran perempuan di panggung-panggung ludruk diperankan oleh lelaki, sehingga lelaki tulen ini bisa tampil kemayu, keperempuan-perempuanan. Belakangan, ada masanya, pemeran perempuan itu digantikan oleh waria, lelaki yang sehari-hari memang “mempersonifikasi” dirinya sebagai perempuan. Maka, pada panggung-panggung ludruk kita mengenal ada istilah wedokan. Seperti pada gemblak, pada derajat tertentu wedokan juga memiliki relasi intim (seks) dengan sesama jenis.
Di dunia pesantren pun sudah lama kita mengenal istilah mairil. Istilah ini merujuk pada adanya relasi intim (seks) sesama jenis di kalangan santri, terutama di kalangan santri pria. Dan, aktivitas seks sesama jenis ini disebut sempet. Mungkin saja mairil di lingkungan pesantren hanya merupakan fenomena minor, tapi tetap saja hal itu membuktikan bahwa di sana pun ada pelangi.
Pada masyarakat Bugis juga ada tradisi yang bahkan jauh lebih tua, sudah berlangsung berabad-abad, yang memposisikan Bissu, lelaki yang dipersonifikasi nirgender, nirseks, sebagai pemimpin dan panutan. Dalam kepercayaan tradisional Tolotang yang dianut oleh komunitas Amparita Sidrap, rupanya manusia tak hanya dikelompokkan ke dalam dua jenis kelamin, lelaki dan perempuan, melainkan empat gender, yaitu Oroane (laki-laki), Makunrai (perempuan), Calalai (perempuan yang berpenampilan seperti layaknya laki-laki), dan Calabai (laki-laki yang berpenampilan seperti layaknya perempuan).
