Adigang, Adigung, Ora Guna

Dari Serat Wulangrèh, sejak dulu orang Jawa mengenal ungkapan yang masih juga popular hingga saat ini: adigang, adigung, adiguna. Rupanya, ungkapan tersebut memang tertulis dalam Serat Wulangrèh, karya sastra yang digubah oleh Sunan Pakubuwana IV, yang berkuasa atas Kerajaan Surakarta periode 1768-1820 M. Diperkirakan, Serat Wulangrèh selesai ditulis pada tahun 1735 Jawa atau 1808 Masehi.

Karya sastra para pujangga memang seperti nujum. Mungkin tak logis, tapi titis. Misalnya, ungkapan adigang, adigung, adiguna itu menggambarkan bahwa betapa kesombongan adalah ibu kandung dari kehancuran. Dan itulah yang terjadi —setidaknya yang akan terjadi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dalam Serat Wulangrèh, frasa itu terdapat dalam pupuh atau kanto ke-3, bait ke-4. Begini bunyinya:

Ana pocapanipun,
adiguna adigang adigung,
pan adigang kidang
adigung pan esthi,
adiguna ula iku,
telu pisan mati sampyoh.

Tinggalkan Balasan