Adigang, Adigung, Ora Guna

(Ada perumpamaannya,
adiguna adigang adigung,
adigang itu kijang,
adigung itu gajah,
adiguna ular itu,
ketiganya mati bersama).

Pada bait-bait berikutnya, sang pujangga memberi penjelasan. Ketiga hewan itu menyombongkan diri dengan apa yang dimiliki. Si kijang sombong akan kelincahannya. Si gajah sombong akan kebesaran badannya. Si ular sombong akan gigitan dan bisanya. Tak ada penjelasan logisnya, memang, tapi baris terakhir dari bait itu menegaskan bahwa pada akhirnya semua, ketiganya, mati bersama.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Masih ada penjelasan lagi pada bait-bait berikutnya dari sang pujangga, tapi lebih pada karakter kesombongan. Adigang, misalnya, sang kijang, digambarkan sebagai yang suka mengumpat-umpat atau menghina-hina; seperti tafsir atas kepandaiannya melompat-lompat. Adigung, digambarkan sebagai karakter yang mengandalkan kebesaran dirinya, terutama karena asal-usul keturunannya; anak raja, misalnya. Adiguna digambarkan sebagai karakter yang menyombong ilmu dan kepandaian yang dimilikinya; tak ada orang lain yang lebih pintar dan lebih benar dari dirinya.

Frasa dari Serat Wulangrèh ini akhirnya menjadi semacam pengingat bagi masyarakat Jawa bahwa manusia jangan sampai menjadi adigang, adigung, adiguna atau dalam bahasa kekinian sombong, congkak, angkuh.

Tinggalkan Balasan