Agama yang Disalahpahami dan Bagaimana Solusinya

Kesemuanya itu merupakan hasil tafsiran manusia. Tidak ada yang paling benar dan tidak pula ada yang salah. Ketika bingung mau memilih aliran yang mana, cukup ikuti ulama/kiai setempat. Ulama/kiai setempat lebih tahu aliran mana yang cocok untuk diterapkan lingkungan tempat tinggalnya.

Tapi apapun itu, kita sebagai hamba diperintahkan untuk meningkatkan kualitas pada aspek kesalehan. Tipologi kesalehan yang dituntut mencakup kesalehan ritual, kesalehan sosial, dan kesalehan publik. Kesalehan tersebut bermuara pada aspek hakikat kemanusiaan di segala zaman.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Setiap agama selalu autentik dalam segala kondisi zamannya (shalih likulli zaman wa makan). Agama menghendaki untuk selaras dengan perkembangan zaman. Peran agama di zaman modern hakikatnya dapat menjaga stabilitas serta mengontrol personal supaya tidak kebablasan melampaui batas. Sebab di era digital, kita sering mendapati orang dengan mudahnya berujar hate speech, hoax, umpatan, dan agitasi. Dengan sikap fanatismenya, menganggap dirinya paling benar dan menyalahkan orang yang tidak sepaham dengannya. Seringkali juga mewajibkan perkara yang sebenarnya sunnah.

Mereka yang bersikap ghuluw (melampaui batas) adalah penganut yang gandrung akan formalisme, tekstualis, menjebak agama dalam simbol dan hitungan matematika–untung-rugi, pahala-dosa, hitam-putih.

Pada titik ini, umat yang berada di negara agamais acapkali memperlihatkan sikap ghuluw seperti itu. Pergolakan yang terjadi di dalam negara pun masih berkubang pada persoalan tafsir-tafsir ideologis, fikih halam-haram. Ini yang kemudian menjadikan negara agamais sulit berkembang, sebab tidak mau membuka diri pada realitas perkembangan zaman modern.

Padahal jika disadari, cara berpikir konservatif dan bersikap ghuluw (melampaui batas) itulah yang pada akhirnya membuat negaranya mengalami kemunduran, membuka keran konflik horizontal dan membuat umat tidak lagi tertarik pada ajaran agama karena penuh dengan kebencian, kajahatan, dan varian konflik.

Dari sini dapat menjadi autokritik bagi kita semua. Beragama harus dikembalikan pada bejana yang menampilkan citra positif dan kedamaian. Beragama aspek esoteris dapat menjadi basis dibanding secara eksoteris. Sebab, aspek esoteris menjalankan ajaran agama secara substansif, di dalamnya pasti termuat cinta kasih, kedamaian dan humanisme.

Pemahaman mendasar tentang hakikat agama perlu dijadikan tolok ukur dalam berperilaku personal di tengah masyarakat agar dalam beragama menjadi kukuh. Metodologi seperti ini menjadi mutlak guna meminimalisasi persepsi terhadap agama yang disebut sebagai suatu ironi lajur penghambat kemajuan peradaban hingga identik dengan penyakralan kekerasan.

4 Replies to “Agama yang Disalahpahami dan Bagaimana Solusinya”

Tinggalkan Balasan