Air Mata Mas Gending

“Kamu di sini dulu nunggu bapak,” ucap Mas gending seraya mengemasi barang yang berserakan di samping bed. Bapak bergeming di tempat tidurnya, matanya terpejam. Beberapa selang bergelantungan di tubuhnya, berjuntai-juntai, menciutkan nyaliku.

“Mas mau ke mana?” aku bertanya khawatir dan takut sekaligus. Menunggui bapak berdua dengannya saja sudah bikin hati tak tenang, apalagi harus sendirian.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Masak dulu, bikin sarapan. Kalau ada apa-apa bilang saja ke perawat di ruang sebelah,” ucapnya tanpa menoleh ke arahku. Baju-baju kotor kami selama menginap di rumah sakit telah dikemasinya dalam satu kantung plastik hitam sisa bungkus roti semalam.

“Kenapa nggak beli saja Mas. Ada warung nasi kok di depan rumah sakit,” kataku, mencoba menahannya agar tidak meninggalkanku sendirian menunggui bapak.

“Kamu punya uang?” tanyanya, menohokku.

Lidahku tercekat seketika. Kutelan ludah kasar dengan cepat. Semenjak bapak sakit, uang saku serta biaya sekolahku ditanggung olehnya yang seorang penjual bakso. Kutahu saat ini Mas Gending sedang kesulitan mengatur isi dompet. Setiap detik mengeluarkan uang, dan pemasukannya tidak ada sama sekali. Walaupun biaya perawatan bapak ditanggung BPJS, tapi pengeluaran untuk ini dan itu tetap tak bisa dihindari. Entah dompet lusuh itu sekarang masih ada isinya ataukah tidak. Yang jelas muka Mas Gending tak kalah lusuh dengan dompet itu, apalagi isi hatinya.

Mas Gending lantas pergi, tanpa mengucap kata, pamit ke bapak pun tidak. Tapi memang percuma pamitan pada bapak, tak akan dijawabnya. Lidah bapak telah kesusahan untuk sekadar bergerak merangkai kata. Terhitung sejak seminggu yang lalu kondisinya semakin memburuk. Sama sekali dia sudah tidak bisa meninggalkan kasur. Harus selalu ada yang menungguinya. Dan detik ini cemas hatiku menungguinya sendirian. Perasaanku seolah disayat-sayat sepi. Beberapa saat kemudian bibir bapak bergerak-gerak tanpa suara. Kutempelkan ujung bibirku di telinganya. Berbisik lidahku mengeluarkan suara lembut untuk menanyai apa yang sedang dikatakan olehnya.

Gundah menyergapku. Terlebih setelah tak mampu menerka ucapan bapak. Aku beringsut ke depan. Saudara tuaku itu memang benar-benar pulang, kuintip dia melalui jendela. Mas Gending berjalan cepat, mengejar waktu. Tangan kirinya menjinjing kantung plastik besar berisikan pakaian kotor kami, sedangkan tangan kanannya membawa termos. Hatiku mencelos melihat pemandangan itu. Betapa berat beban yang harus ditanggungnya. Aku kembali ke pembaringan bapak.

“Bapak minta apa?” aku berbisik sangat lirih.

Mata bapak terbuka, kulihat ada air yang menggenang di pelupuk mata penuh keriput itu. Entahlah, itu air mata kesedihan atau air mata karena menahan sakit. Tapi aku masih ingat, air mata seperti itulah yang dulu pernah membasahi pelupuk matanya sampai berhari-hari.Ketika itu aku masih kelas lima SD, sekitar lima tahunan yang lalu. Wajah bapak yang dipenuhi kerinduan itu berbinar-binar ceria karena Pak Dardak pemilik wartel di desaku datang ke rumah untuk memberitahu ada telepon dari ibu di Taiwan. Bapak tergesa-gesa pergi ke wartel untuk menerima telepon itu. Hanya para pemilik wartel-lah yang mempunyai telepon pada waktu itu. Bapak mengajakku turut serta, sedangkan Mas Gending sedang bermain sepak bola di ladang kering milik tetangga.

Namun kemudian aku harus menelan kekecewaan karena ibu ternyata tak mengajakku bicara, hanya bapak yang diajaknya bertelepon, padahal aku sudah sangat rindu padanya. Setelah itu, dengan mata berkaca-kaca bapak mengajakku pulang. Dan kami pun melangkah meninggalkan warung telepon itu, tanpa ada sepatah kata pun. Aku yang sekecil itu sudah paham, bahwa ada sesuatu yang telah terjadi di antara ibu dan bapak. Dan benar, beberapa hari kemudian Mas Gending bilang bahwa melalui telepon itu ibu telah melayangkan gugatan cerai. Rasanya kiamat terlalu cepat menghampiri hidup kami. Tapi mau bagaimana lagi. Tak ada jalan untuk menghindar dari takdir itu.

Tinggalkan Balasan