Mas Gending melangkah keluar, mungkin memanggil perawat untuk mengganti infus. Dan sebentar kemudian lelaki berusia dua puluh lima tahun itu sudah masuk ruangan lagi. Dia memberi minum bapak. Aku tak tahu harus melakukan apa. Kuambil HP di atas tikar dan aku kemudian melangkah keluar. Mas Gending tak menahanku.
Kucari nomor telepon ibuku. Entah kenapa nomor itu tiba-tiba tiada ketika aku sedang sangat membutuhkannya. Padahal nomor whatsapp itulah yang paling sering aku pandangi. Aku pandangi gambar profil itu, karena tak selalu kerinduanku aku luapkan dengan meneleponnya. Mas Gending sering melarangku untuk menelepon ibu, begitu pula dengan bapak. Entah apa alasan mereka melarangku. Tapi karena itulah aku sering menelepon ibu secara diam-diam. Seperti yang akan kulakukan saat ini.

Berkali-kali aku scroll ke bawah dan scroll ke atas layar HP-ku. Tapi sepertinya nomor itu benar-benar hilang. Kuacak-acak rambutku sendiri karena emosi. Dan tiba-tiba mataku mendelik, kutemukan nomor itu. Mungkin aku terlalu gugup, atau lelah, sehingga mataku tak mampu melihat nomor ibuku. Segera kupencet tombol panggil. Walau permintaanku sering diabaikan, dan walaupun sekarang dia bukan lagi istri bapak, namun aku tak akan berhenti menghubungi. Menurutku tak ada salahnya meminta pertolongan padanya. Karena bagaimanapun juga dia tetaplah ibuku. Dan aku masih berharap suatu saat nanti dia akan kembali ke pangkuan bapakku.
Tak diangkat. Mungkin dia sedang menelepon suami barunya. Merasa jengah terus diabaikan, aku pun berhenti menghubunginya. Mondar-mandir aku di Puskesmas yang lengang. Ingin aku membeli kopi dan rokok di warung sebelah, tapi kemudian aku teringat pada wajah penuh amarah kakakku. Kuurungkan niat itu. Mas Gending sangat membenci kebiasaanku merokok, karena aku masih sekolah. Uang pun belum bisa mencari sendiri. Tiba-tiba HP dalam saku bajuku bergetar. Ternyata ibu memanggil. Kuangkat cepat-cepat panggilan itu. Kuutarakan maksudku meneleponnya tadi. Tak seperti biasanya, ibu kali ini mau membantu kami untuk mengobati bapakku yang juga mantan suaminya itu. Sejumlah uang akan ditransfer ke rekening Mas Gending. Aku tersenyum puas. Amarah kakakku itu pasti akan sirna melihat aku berhasil mencari bantuan dana.
“Untuk apa meminta bantuannya?” sergah Mas Gending setelah kuberitahu ibu memberi kami uang.
“Bukankah kita sedang butuh bantuan dana untuk biaya pengobatan bapak?” tanyaku keheranan.
“Kita tak membutuhkan bantuannya. Dia akan semakin jumawa melihat kita tak berdaya. Akan semakin jauh dia melihat bapak dengan sebelah mata,” Mas Gending berucap dengan bibir bergetar.
“Bukankah sebaiknya kita tak perlu memperturutkan dendam untuk mempertaruhkan nyawa bapak kita?” protesku, mencoba berpikir bijak.
“Tak ada yang perlu dipertaruhkan,” tukasnya.
“Kenapa?” sahutku cepat.
“Kita sudah tak punya bapak lagi,” jawabnya lirih. Bulir-bulir air mata mengaliri pipinya yang sedikit legam terbakar sinar matahari di jalanan.
