Air Mata Mas Gending

Ketika aku masuk sekolah dasar ibuku minta izin pada bapak untuk pergi ke luar negeri sebagai TKW. Katanya untuk menyambung hidup serta cita-citanya. Dia ingin agar aku dan Mas Gending bisa kuliah. Bapak pun merelakannya pergi karena merasa tak akan mampu memenuhi cita-cita menyekolahkan anak sampai setinggi itu. Kami melepas kepergian ibu dengan penuh harapan akan adanya masa depan yang lebih baik. Dan lima tahun setelah kepergiannya ke Taiwan harapan itu pupus menjadi puing-puing penderitaan. Kata Mas Gending ibu tergoda oleh lelaki lain. Mungkin juga bosan dengan keadaan bapak yang tak mampu memberikannya cukup materi. Ibuku telah silau akan harta benda.

Kupandangi kembali wajah keriput bapak.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Bibirnya mengucap sesuatu lagi, tapi aku tetap tak mendengar apa-apa. Rasa cemas menggerogoti pikiranku. Berulang-ulang kubisikkan pertanyaan yang sama. Dan aku tetap tak mendengar apa-apa ketika telingaku kutempelkan ke mulutnya yang kering itu. Pikiranku semakin kalut. Semrawut.

Waktu berselang beberapa jenak. Bapak tampak marah karena aku tak kunjung memahami kata-katanya yang tidak jelas. Bibirnya yang sebentar-sebantar berkomat-kamit semakin menggelisahkanku. Adalah stroke yang telah berhari-hari menyerang kesehatannya, membuat lidahnya tak mampu mengucap kata dengan jelas. Jantungnya juga bermasalah. Lelaki yang dulu perkasa, menjadi tulang punggung kehidupan kami itu kini terdiam tak berkutik oleh nasib.

Aku keluar kamar inap bapak. Menengok kamar sebelah yang hanya dibatasi kelambu. Ruangan itu sepi senyap. Semua pasien di ruangan ini telah pulang kemarin, menyisakan bapakku sendirian. Kutengok gerbang rumah sakit yang juga lengang. Tidak ada Mas Gending di sana. Aku kembali masuk ruangan dengan hati gamang. Batinku terasa diiris-iris oleh kesunyian. Perawat hanya menengok bapak sesekali untuk mengecek tensi darah atau membenahi dan mengganti infus. Semenjak Mas Gending pulang pun tak ada perawat yang datang. Sendirian aku menunggui tubuh bapak yang terkulai tak berdaya di pembaringan. Kantuk pun menyergapku

Aku terbangun ketika Mas Gending membangunkanku dengan telapak kakinya. Entah berapa lama aku tertidur di atas tikar tadi.

“Bodoh!” sentaknya tiba-tiba. Dadaku bergetar sangat kaget. Tanganku terasa gemetar. Tak berani aku menatap muka Mas Gending yang entah oleh sebab apa tiba-tiba memakiku dengan begitu kasarnya. Semenjak tak bekerja akibat pandemi ini dia memang lebih sensitif. Apalagi setelah bapak sakit dan tak bisa ke mana-mana. Setiap hari dompetnyalah yang dikuras habis-habisan untuk menambal kebutuhan. Tekanan kehidupan yang berat berlipat-lipat tak pelak mengubah perangainya dari seorang penyabar menjadi seorang lelaki yang begitu mudah emosi.

“Infus bapak habis dan kau enak-enakan tidur!!! Mulutnya kering begini, apa tak kau beri minum? Sedungu itukah kamu?” sentakannya semakin keras meruntuhkan mentalku.

“Ketiduran Mas,” aku menjawab takut. Segunung rasa bersalah mencekik leher kesadaranku.

“Anak tak tahu diri! Bapak sedang kritis begini bisa-bisanya kamu tidur!” umpatan Mas Gending meluap-luap.

Tubuhku menggigil ketakutan menyadari Mas gending sangat murka. Dan memang sudah sepantasnyalah aku yang menjadi sasaran kemarahan itu. Aku memang tak berguna, kehadiranku atau kealpaanku di samping tubuh bapak yang tak berdaya itu sama sekali tak berpengaruh apa-apa. Detik-detik yang terus berlalu membuatku merasa menjadi anak yang tak berguna dan bodoh. Aku merasa sangat bersalah pada Mas Gending, dan tentu saja kepada bapak. Tertunduk kepalaku dalam penyesalan.

Tinggalkan Balasan