Kita berbincang tenang
Melewati malam yang akan segera pergi
Menakar segala resah menyelimuti
Sampai menunggu pagi
Untuk menghasilkan puisi.
Aku tak tahu nasib puisi kita seperti apa
Segala yang kita bina tak banyak melahirkan makna indah
Yang entah akan menhadirkan tawa atau airmata.

Aku tak tahu nasib puisi kita seperti apa
Yogyakarta, 2022.
AIR MATA SIA-SIA
Entah sudah berapa bulir airmata kubuang sia-sia
Kalimat yang tak lekas kaubaca
Masih menjadi peristiwa dalam setianp langkah
Doa-doa saban malam dipinta terlalu dini untuk melahirkan luka teramat lara.
Banjir sudah samudera yang kubuat
Ia tak cukup kuat untuk menampung segala yang kuikat
Hingga semuanya telah pulang dan menyisakan kenang sepanjang ingatan.
