Akhlak Anak Terhadap Orang Tua

“Ibumu, ibumu, ibumu,… bapakmu!”

Sebuah Hadis terkenal di kalangan masyarakat, terkait dengan porsi kebaikan dan kebaktian terhadap kedua orang tua. Dari Abu Hurairah, Beliau berkata, “Seorang pria pernah mendatangi Rasulullah saw lalu berkata, ‘Siapa dari kerabatku yang paling berhak aku berbuat baik?’ Beliau saw mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau saw mengatakan, ‘Ibumu.’ Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau saw mengatakan, ‘Ibumu’. Dia berkata lagi, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, ‘Ayahmu’.” (HR. Bukhari dan Muslim).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Hadis di atas menjelaskan kedudukan seorang ibu terhadap bapak. Meskipun keduanya harus sama-sama dihormati, akan tetapi peran ibu melebihi peran seorang bapak di dalam merawat dan mendidik seorang anak. Maka dengan demikian, kita tetap harus menjaga kedua orang tua, karena hakikat keduanya adalah sebuah realita keberadaan. Tanpa adanya mereka, seorang anak tidak akan lahir ke dunia.

Selayaknya seorang anak kepada orang tua, seharusnya melihat bagaimana peran serta orang tua dalam merawat dan mendidik seorang anak. Ketika mereka mencapai usia uzur, menjadi kewajiban anak untuk menjaga mereka jangan sampai terlantar dan tidak terurus. Mereka yang pernah berjasa kepada anak-anak mereka, pada saat yang sama, ketika mereka sudah mencapai usia lanjut, tulang-tulang keriput, tenaga sudah habis, pendengaran begitu berkurang, dan lain sebagainya. Maka seorang anak wajib merawat dan berbuat baik kepada mereka sebagai ungkapan balas jasa, sekaligus sebagai ibadah demi kerelaan dari Allah swt.

Dalam sebuah Hadis dijelaskan, “Ridhallah fi ridhal walidain, washukhtullah fi shuhtil walidain, bahwa kerelaan Allah swt tergantung kepada kerelaan kedua orang tua, dan murka Allah swt tergantung kepada murka kedua orang tua.” (HR. Thabrani).

Tinggalkan Balasan