Saya masuk pesantren dengan ilmu keagamaan yang pas-pasan. Artinya, pengetahuan terkait dengan ilmu nahu, misalnya Bahasa Arab, dan ilmu keagamaan lainnya merupakan sebuah pengetahuan kebaruan. Sehingga saya harus berusaha sekuat tenaga untuk bisa sama dengan teman-teman yang sudah lebih awal di pesantren ini. Bahkan hingga suatu waktu saya merasa putus asa untuk belajar Tata Bahasa Arab yang di awal saya masuk pesantren dirasa sangat menyulitkan.
“Yang penting Kamu pelajari dulu sedikit demi sedikit. Tidak ada ilmu yang instan, bisa dipahami dalam sekejab waktu,” demikian teman sekamar saya memberikan dorongan moril kepada saya. Dan benar adanya, lambat laun saya pun dapat mengikuti setiap pelajaran yang saya dapatkan di pondok Annuqayah tercinta ini.

Maka berbilanglah waktu, berjalan sesuai kodratnya, bertambah hari, minggu, bulan, hingga tahun. Tanpa terasa, saya telah belajar beberapa tahun lamanya. Ada banyak hal yang menjadi pengalaman di pesantren kebanggaan ini. Baik dari segi keagamaan, hubungan sosial, hingga hal-hal yang terkait dengan keilmiahan. Di pesantren ini juga pertama kali karya tulis saya dimuat di berbagai media, seperti Surabaya Pos, Majalah Amanah, dan jurnal pesantren yang bersifat lokal.
Di pesantren ini pula saya belajar bagaimana cara bersabar. Kiriman telat, misalnya, hingga saya harus berpuasa (terkait hal ini pernah saya tulis di duniasantri.co). Atau juga saat membuat karya tulis (Majalah Dinding) yang kemudian ditegur oleh pengasuh (Kiai A Warits Ilyas, alm) karena terkesan fulgar (juga dimuat dalam duniasantri.co). Dan masih banyak lagi yang lainnya terkait dengan relasi antar santri di pondok.
