Sebagai alumni, mungkin secara fisik sudah kudet alias “kurang update”, baik terkait berapa unit bangunan yang dimiliki pesantren saat ini maupun bahkan kegiatan apa saja yang berubah, diinovasi ataupun dihapuskan sama sekali. Tetapi saya percaya, perubahan secara fisik maupun jarak tidaklah berarti sama sekali bagi orang yang mencintai begitu dalam akan pesantrennya. Bahkan nanti ketika guru-guru kita sudah tiada dan kita sendiri semakin menua, gambaran kehidupan ketika di pesantren, juga nasihat bijak bestari dari guru-guru kita, tidak akan hilang, akan terus kita kenang atau bahkan nasihat itu menjelma menjadi diri kita. Entah disadari atau tidak kita sadari, ia sudah menjadi ajaran yang mendarah daging.
Karena cinta mendalam inilah saya hendak mengenang kembali dawuh kiai yang sering disampaikan di banyak kesempatan, sehingga sampai hari ini dawuhnya terus menancap di hati saya.

Dawuh kiai adalah: al-istiqomah khoirun min alfi karomah. Artinya, bahwa istikomah (melakukan sesuatu secara terus-menerus) itu lebih baik daripada seribu karomah (keistimewaan) yang dimiliki seseorang.
Dahulu saya tidak begitu menghayatinya atau bahkan biasa saja karena sangat seringnya nasihat itu disampaikan. Istikomah bagi saya, ketika itu, ya melakukan salat berjamaah sebagaimana peraturan yang sudah ditetapkan pesantren. Atau salat tahajud karena bel yang berbunyi di sepertiga malam. Atau mengikuti seluruh kegiatan mulai sekolah, kursus, muhadloroh, muhadatsah, setoran imrithi dan alfiyah, diniyah, atau setoran kitab kuning. Bagi saya semua itu sudah istikomah pol karena tidak berganti-ganti kegiatannya sepanjang tahun. Itu itu saja.

Mantab, pengalaman yang tak mungkin terlupakan. Mabruk ya Ukhti!
Trmakasih ustadz. 🙏