Beberapa tahun belakangan ketika saya boyong lalu melanjutkan kuliah di perguruan tinggi negeri, kemudian lulus dan sekarang mengabdi untuk mengamalkan ilmu yang sudah saya dapatkan, saya sering memikirkan betapa sesungguhnya nasihat kiai sudah seperti keyword untuk menghadapi hidup yang tidak menentu ini.
Saya belajar memaknai bahwa istikomah ternyata bukan itu-itu saja. Bukan pula hal yang membosankan karena terus melakukan hal yang sama berulang kali. Istikomah adalah bentuk lain kesabaran itu sendiri. Istikomah adalah konsistensi tanpa batas. Istikomah adalah pantang menyerah. Istikomah adalah kegigihan. Istikomah adalah sebentuk keyakinan. Istikomah adalah pembuka jalan-jalan kebaikan meskipun kita bukan termasuk orang yang memiliki keistimewaan. Ini baru datang dari satu nasihat beliau. Masih banyak lagi yang tidak saya ingat, tetapi sesekali masih saya dengarkan lewat rekaman mp3.

Sekarang saya mungkin sudah tidak bisa mendengarkan langsung suara beliau yang lantang seraya berdiri dan duduk menyampaikan nasihat bijak bestarinya seperti dulu di hadapan ribuan santri karena usia yang sudah uzur. Saya lihat beliau selalu duduk di kursi roda yang didorong para asatiz ketika menghadiri acara-acara besar pesantren. Meski sementara secara fisik Pesantren Mambaus Sholihin semakin megah, namun kesedihan saya selalu lebih besar dari itu semua. Mambaus Sholihin bagi saya adalah segala-galanya. Saya tumbuh dan besar di dalamnya. Teringat satu Mars dengan motto pesantren “Alim, Sholeh, Kafi” yang dulu sering saya dengarkan ketika masa kanak-kanak, bunyinya begini:
Sejak kecil, kami belajar
Di pondok tercinta ini
Agar kelak, jadi orang
Yang Alim, Sholeh, dan Kafi
Ya Allah, curahkanlah rahmaMu kepada kami
Jadikanlah ilmu kami, jalan terang hidup nanti

Mantab, pengalaman yang tak mungkin terlupakan. Mabruk ya Ukhti!
Trmakasih ustadz. 🙏