Maka dengan demikian, saat mondok pada tahun 2000-an saya teringat di dengan kehidupan Kiai Ahmad Basyir yang begitu sederhana dalam berpakaian. Seingat saya, selama berada di Pondok Pesantren Annuqayah, bisa dikatakan tidak pernah melihat beliau dengan pakaian yang beraneka warna. Itu menandakan betapa sederhananya kepribadian kiai, hingga cara berpakaianya pun tidak tampil mewah.
Begitu juga dari sisi kehidupan kesehariannya. Beliau sangat aktif dalam meninjau santrinya, bahkan hampir setiap malamnya digunakan untuk mengontrol santri, mulai dari mengisi air di kamar mandi, menyiram bunga, hingga memeriksa halaman yang masih kotor.

Maka dari situlah nampak bahwa beliau bukan hanya mengajari kesederhanaan, namun juga mengajari kedisiplinan bagi santri. Kedisiplinan yang beliau ajarkan melalui metode keistikamahan dalam salat berjamaah dalam setiap waktunya yang tidak pernah ditinggalkan. Seingat saya sejak mondok di Annuqayah, beliau tidak pernah meninggalkan salat berjamaah bersama santri.
Sebenarnya dalam hal keistikamahan Kiai Ahmad Basyir dalam salat berjamaah itu terdapat pelajaran yang sangat berharga bagi seluruh santri Latee. Dengan demikian, saya pernah mendapatkan wasiat dari salah satu guru, yaitu KH Ahmad Dumairi, Pengasuh Pondok Pesantren Tanwirul Hija. Beliau mengatakan, “Kunci untuk mendapatkan berkah di Pondok Latee hanya satu, yaitu harus istikamah dalam salat berjamaah selama 40 hari berturut-turut.”

Mantab, mumtaz, amazing,,,,
Terima kasih gus