Manusia harus punya slot “tidak tahu” di antara slot percaya dan tidak percaya. Menyadari keterbatasan agar selalu semangat mencari kebenaran informasi. Menyusun metodologi yang runtut dalam mengambil keputusan. Menyaring informasi sebanyak-banyaknya agar menjadi manusia yang tidak gampang “dibodohi” informasi mentah dan gairah fanatisme.
Ketidaktahuan bukan berarti kebodohan. Justru dengan menyadari ketidaktahuan diri adalah proses menuju kedewasaan dalam mengolah informasi. Apalagi luasnya pengetahuan yang semuanya mustahil untuk ditampung kapasitas memori otak manusia. “Aku tidak tahu” adalah jawaban dari manusia yang luas informasi. Semakin pandai (banyak wawasan) seseorang, maka akan menyadari bahwa dirinya bodoh karena banyaknya pengetahuan yang tidak diketahuinya. Sedangkan orang yang mudah menjawab pertanyaan tanpa kapabilitas keilmuan dan rendah literasi merupakan sikap pamer kebodohan yang tidak disadari.

Imam Al-Ghazali membagi 4 golongan manusia yaitu, (1) Rojulun Yadri wa Yadri Annahu Yadri (Seseorang yang tahu dan dia tahu kalau dirinya tahu). Golongan ini adalah orang yang benar-benar tahu (berilmu) dan menyadari kapabilitas dirinya. Orang seperti ini yang seharusnya banyak menyampaikan pendapat mengenai sebuah perdebatan yang mengarah pada konflik.
Rojulun Yadri wa Laa Yadri Annahu Yadri (Seseorang yang tahu, tapi dia tidak tahu kalau dirinya tahu). Golongan yang sebenarnya ada banyak di sekitar kita. Cenderung diam padahal punya kapasistas untuk menjelaskan sebuah informasi yang akurat (mendekati kebenaran). Namun karena kerendahan hati tentang apa yang diketahuinya membuat orang yang malah tidak berilmu ramai menyimpulkan pengetahuan yang sumbing.

Sip. Mantap.
Seakan manifestasi dari Sabda Nabi, “Ma ana biqari’,,,”