Menurutnya, akal yang bersifat potensial tidak mempunyai sifat aktual tanpa ada kekuatan yang menggerakannya dari luar. Akal tersebut membuat akal yang bersifat potensial dalam roh manusia menjadi aktual. Sifat-sifat akal ini adalah ada lima, yaitu merupakan akal pertama, selamanya dalam aktualisasi, merupakan spesies dan genus, membuat akal potensial menjadi aktual berpikir, dan tidak sama dengan akal potensial, tetapi lain dari padanya.
Dalam hal moral, Al-Kindi menyatakan juga bahwa orang berpengetahuan adalah orang yang berbudi baik, dan orang yang berbudi baik akan menggunakan pengetahuannya itu dengan baik, maka dikatakan sebagai orang yang adil.

Tentang Logika
Dalam hal logika, Al-Kindi membedakan antara akal dan rasio. Rasio di sini adalah sebagian dari kekuatan akal, karena yang disebut dengan akal hanyalah kekuatan berpikir yang semata-mata bertumpu pada kinerja panca indera. Sedangkan, akal adalah kekuatan berpikir yang selain bertumpu kepada kekuatan panca indera, juga dibantu oleh kekuatan hati atau perasaan.
Al-Kindi membagi akal menjadi empat bagian, yaitu akal yang aktif, potensi, habitual, dan manifes. Ia mengembangkan akal ini sesuai dengan pengembangan dalam ajaran Plato dan Aristoteles.
Menurut Al-Kindi, ada satu macam akal yang mempunyai wujud di luar roh manusia, dan bermakna: akal yang selamanya dalam aktualitas. Karena dalam aktualitas, akal inilah yang membuat akal potensial dalam roh manusia menjadi akal.
Referensi: Dr H Abu Tholib Khalik, M.hum., Pemikiran Filusuf dari Masa ke Masa, (Ladang Kata, Yogyakarta 2016).
