Lisan, meski kecil dan tak bertulang, apabila tidak dibina dengan kecukupan ilmu yang baik, maka akan membahayakan kehidupan seseorang. Ketika seseorang lalai menjaga lisannya, ia dapat melukai hati orang lain, menciptakan konflik, dan berimbas kerusakan reputasi. Masyarakat detik itu pula akan menurunkan nilai sosial seseorang tersebut. Reputasi, sebagai kerangka hidup seseorang, hancur begitu saja.
Terplesetnya Lisan vs Kaki

Pada nazam kedua yang disebutkan penulis, terplesetnya lisan dapat mendatangkan balang endas atau tertebasnya kepala. Istilah balang endas merupakan sebuah metafora yang menggambarkan kerusakan ekstrem, entah itu pada reputasi, kedudukan, atau bahkan keselamatan seseorang. Dampak cancel culture yang dirasakan menghampiri secara bertahap, akan tetapi seringkali sulit dipulihkan.
Sebaliknya, tergelincirnya kaki disebabkan karena kesalahan fisik secara sengaja atau tidak sengaja, sakitnya bersifat sementara. Luka yang ditimbulkan lambat laun dapat pulih seiring berjalannya waktu, tanpa berdampak besar terhadap kehidupan seseorang. Artinya, efek kesalahan fisik jauh lebih ringan daripada kesalahan lisan.
Dengan demikian, pepatah Arab yang mengatakan salāmah al-insān fī ḥifẓ al-lisān, selamatnya manusia ialah siapa saja yang menjaga lisannya, adalah benar adanya.
Meski tampak sepele, suatu anggota tubuh yang setiap harinya berkomunikasi dengan orang-orang ini justru membentangkan jurang bahaya bagi kita. Oleh karenanya, berikan asupan hati kita dengan senantiasa mengaji, memperbanyak ilmu, supaya lisan selalu terjaga dari ucapan-ucapan buruk. Semoga kita diselamatkan dari bahayanya lisan.
Ilustrasi gambar: Tokopedia.
