Ale, Ikan, dan Kehilangan

Ale mulai banyak bicara. Protes kecil sudah biasa ia sampaikan. Aku bersyukur karena Tuhan berikan ia kebebasan untuk berpikir dan berpendapat sedini mungkin. Tingkah nakal anak kecil juga tidak jarang nampak dari segala keusilannya. Kami saling bercerita tentang banyak kisah, tentang keberhasilan, kegagalan, dan semangat pantang menyerah. Bahkan, Ale yang belum memiliki banyak kisah hidup mulai bercerita tentang segala hal yang dia alami. Tentang pertemuannya dengan serangga maupun cacing di kebun belakang. Tentang daun pisang yang ia gunakan sebagai mainan. Dia bercerita dengan detail apa yang terjadi dan ia rasakan. Ale cukup cerdas untuk mendeskripsikan sesuatu.

Di umurnya yang tak memenuhi jari tanganku, Ale mulai memiliki hewan piaraan. Ia memilih untuk memelihara ikan hias yang biasa dijual di depan sekolah dekat rumah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kenapa ikan, Nak?.

Ale jatuh cinta dengan warna dan ketabahan ikan. Ikan tak pernah meraung meminta keluar untuk jalan-jalan. Ia selalu menerima hidupnya.

Bagaimana kamu tahu?

Aku melihatnya di balik akuarium mini yang kita punya. Akuarium mini berasal dari teko kaca milik ibunya yang tak terpakai, tanpa pompa oksigen, hanya kuberikan sedikit tumbuhan di atasnya untuk mempercantik akuarium dadakan itu. Ale begitu menyayanginya. Hampir setiap hari ia tak pernah absen untuk membersihkan akuarium.

Suatu hari, seorang sahabat ibunya datang berkunjung. Kehebohan khas ibu-ibu muda menghiasi caranya mengapresiasi ikan hias Ale. Ale hanya terdiam memperhatikan setiap gerak-gerik bibir teman ibunya. Hingga sampai pada satu percakapan yang membuat Ale tidak bisa tenang dan cenderung gelisah.

“Ikan hias cem mana ni, paling tak lama juga mati. Berapa beli? Cuma lima ribu,  kan? Di depan SD itu, kan?”

Tinggalkan Balasan