Tetapi, bila diriku menyembah-Mu karena Dikau semata. Maka jangan larang diriku untuk menatap keindahan-Mu yang abadi…”
Di sini, Rabiah Al-Adawiyah mewakili penghambaan atau lelaku hamba yang tanpa pamrih. Surga dan neraka bukan motif. Hubungan antara khalik dengan makhluk bukan relasi transaksional. Bukan “jika aku menyembah-Mu, aku dapat apa?” Bukan pula karena takut siksa neraka dan menginginkan kenikmatan surga. Itulah tingkatan tertinggi keimanan, kepasrahan, dari seorang hamba kepada penciptanya. Penghambaan yang tanpa motif, tanpa pamrih. Kita mengenalnya dengan istilah lillahi ta’ala.

Tapi tak banyak, memang, dari kita yang mengikuti “jalan Rabiah Al-Adawiyah”. Kebanyakan dari kita beramal sambil berharap memperoleh imbalan yang berlipat. Beribadah karena takut siksa neraka. Berbuat baik dan lantas mendaku berhak atas surga. Gagah berjuang di jalan Tuhan untuk menjemput bidadari.
Bagaimana mungkin kita akan memperolah tempat khusus di surga seperti Rabiah Al-Adawiyah jika masih menyimpan motif berahi? Menyembah Tuhan sambil membayangkan diri meniduri bidadari?
