***
Bus yang membawa Nopi telah sampai ke sebuah pondok pesantren yang terletak di tepi Jalan Raya Kediri-Tulungagung. Ia berjalan memasuki sebuah gapura hijau yang di atasnya terlulis Pondok Pesantren Al-Hikmah Purwoasri Kediri. Dikeluarkannya sebuah amplop coklat seukuran kertas folio yang di dalamnya terdapat seberkas surat lamaran, ijazah, daftar riwayat hidup, dan sebagainya.

Ia berjalan mendekati seorang beseragam abu-abu dengan kopyah haji berwarna putih. Ia sedang membersihkan kolam ikan koi yang terletak di depan kantor Kepala Madrasah Aliyah Al-Hikmah.
“Assalamualaikum, Pak. Saya Nopi, ingin mengajukan lamaran pekerjaan sebagai guru Bahasa Indonesia.”
“Waalaikumsalam, silakan masuk dulu.” Ia mengajak Nopi memasuki ruang Kepala Madrasah.
“Silakan duduk. Sudah ada pengalaman mengajar?”
Nopi terkejut, seseorang orang berpenampilan sederhana yang sedang merawat kolam ikan tadi ternyata Abah Dain, Kepala MA Al-Hikmah.
“Sudah Pak, saya pernah mengajar SD, SMP, dan SMK.”
“Baik, sementara berkas lamaran ini saya terima. Nanti jika ada, Bapak diterima, kami hubungi.”
Nopi menyalami Abah Dain. Usai itu, ia melangkahkan menuju parkiran untuk menemui Nuribi, teman satu kamar kos waktu berkuliah di Surabaya.
“Memang bekerja di desa itu gajinya tidak sebesar di kota. Tetapi, di sini kamu tidak perlu kos, tidak macet, dan harga makanan tidak semahal di kota. Benar, kan, Mas Ibing?” Bu Ismi melemparkan pertanyaan itu kepada Ibing, nama pangilan Nuribi.
“Iya Bu, hidup di desa itu enak. Orang desa itu cenderung ramah, apalagi jika kita berprofesi sebagai guru, lebih akan dihormati. Perbanyaklah berdoa Nop, agar bisa diterima sebagai pengajar di MA Al-Hikmah. Jika kulihat kemampuanmu, insyaallah diterima.”
***
Sabtu, 10 Juli 2010 pukul 07.43, empat bulan setelah surat lamarannya dilayangkan, HP Nopi berdering. Ada nomor yang tidak dikenal masuk.
“Assalamuaikum, saya Heru, waka kurikulum MA Al-Hikmah. Apa saya benar ini Pak Nopi?”
“Waalaikum salam. Iya Pak, saya Nopi.”
“Saya diminta Abah Dain untuk memanggil Bapak guna kepentingan wawancara konfirmasi ajuan menjadi guru MA Al-Hikmah. Apa bisa Bapak menemui saya hari ini?”
“Saya masih di Surabaya, seandainya saya datang pukul 12.00 apa bisa, Bapak?”
“Jika tidak memungkinkan hari ini, tidak mengapa besok datang.”
