Amal Jariyah Guru Santri

Nopi sangat bersyukur karena mendapatkan kesempatan wawancara sebagai guru MA Al-Hikmah. Tentu ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Pada pagi itu, senyampang tidak ada jam mengajar di SMK IKIP Sidoarjo, ia memutuskan untuk menghadiri wawacara.

***

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Ini adalah hari pertama Nopi akan mengajar di MA Al-Hikmah. Senyampang menunggu jam mengajar, ia menunggu di ruang guru. Ketika akan memasuki ruang guru, terlihatt beberapa guru yang sedang duduk. Salah seorang mempersilakan Nopi untuk memasuki ruang guru.

“Monggo Pak, silakan masuk,” sapa seorang guru paro baya.

“Injih, Pak. Saya Nopi.” Tangan Nopi arahkan ke depan para guru senior MA Al-Hikmah sebagai tawaran untuk bersalaman.

“Malik.”

“Haris.”

“Agus.”

“Rona.”

“Nasulkan.”

“Ini teman saya kuliah, Pak. Masih mengajar di Surabaya, Pak Nop?” ujar Pras kepada mereka.

“Sepertinya saya mau mengundurkan diri karena nanti saya akan kerepotan harus bolak-balik ke Sidoarjo.”

“Apa Anda mengajar juga di Sidoarjo?” tanya Pak Malik.

“Iya Pak, sebelum diterima di sini, saya mengajar di SMK IKIP yang berada di Sidoarjo,” jawab Nopi.

“Apa sudah ada guru pengganti di sana? Apa jam mengajar di sini penuh?”

“Belum ada, Pak Malik. Tidak juga, saya cuma mengajar Sabtu sampai Selasa.”

“Wah, kasihan anak SMK jika Anda meninggalkan mereka. Coba Bapak berikan waktu kepada SMK untuk mendapatkan guru pengganti. Jangan sampai mengacuhkan siswa yang hendak menimba ilmu kepada kita. Tak baik seorang guru menolak mengajari siswa.”

Pak Malik juga menjelaskan bahwa menjadi seorang guru itu suatu hal yang wajib kita syukuri karena memiliki banyak keutamaan. Jika guru ikhlas mengajarkan ilmu dan memperbaiki akhlak siswa, maka ia akan mendapatkan amal jariyah.

Nasihat-nasihat yang disampaikan Pak Malik itu sudah pernah didengar Nopi. Tetapi, sayangnya, terpendam oleh beban pikiran. Cara Pak Malik berbicara dari hati ke hati itu membangkitkan lagi nilai kemuliaan profesi guru yang terpendam lama. Tak pernah terbayangkan olehnya bahwa ia akan menemukan sesuatu yang telah hilang. Tak salah ia memilih mengajar di MA Al-Hikmah karena, sambil mengajar, ia bisa mencari paradigma yang mampu mererangi hatinya.

Tinggalkan Balasan