anak kucing

Anak Kucing

Keningnya mengerut. Bersungut-sungut kesal pada suaminya. Sedang Anto hanya bisa menunduk. Gemetarlah hatinya mendengar ucapan istrinya yang itu-itu saja. Di saat perempuan lain usai melahirkan ingin mendekap anak yang telah ia jaga selama sembilan bulan, tetapi Ratri malah bersikukuh ingin bertemu seekor kucing.

Malam menjelang, hujan pun telah reda. Di tengah kegelisahan harus dengan cara apa ia menemukan kucing itu, Anto dikagetkan dengan permintaan Ratri yang tiba-tiba ingin bertemu anaknya. Betapa pun kondisi Ratri telah membaik. Bayinya tentu amat membutuhkan air susu ibunya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Wajah Anto memucat. Ia tidak segera melaksanakan titah istrinya. Entah perasaan apa yang merasuki pikirannya, batin Anto malah dilanda cemas.

“Mas, bawa ke sini bayinya. Kalau Mas tidak bisa gendong, minta bantuan perawat,” Ratri makin bersungut-sungut melihat kelakuan suaminya.

Anto berkeringat dingin. Tapi, ia langsung menguasai diri dan pergi ke ruang di mana bayinya dirawat. Anto membopong bayi mungil. Dadanya meruah dengan perasaan yang sulit diterjemahkan.

Anto berjalan pelan menuju ruang rawat istrinya. Ia masih tercenung. Bukan ihwal kucing yang belum ia temukan, tetapi ada persoalan lain yang tak kalah pelik. Buah cintanya dengan Ratri kini ada di dekapannya. Batinnya harap-harap cemas, semoga kiranya Ratri dapat mengerti, bahwa ia telah melahirkan seorang—lebih tepatnya seekor—bayi kucing mungil yang terus menggeliat dari balik bedung, seolah haus air susu ibu.

KOMPAK Yogyakarta, Januari 2022.

Tinggalkan Balasan