Analisis Makna Iman
Toshihiko Izutsu memulai analisisnya dengan memahami makna dasar iman. Dia mengatakan bahwa iman adalah keyakinan seseorang terhadap Allah, nabi, kitab, dan sebagainya. Umat muslim menganut enam rukun iman yang digariskan dalam ajaran agama mereka.Dia melakukan analisis ini dengan menggunakan pendekatan semantik seperti analisis sintagmatik, paradigmatik, sinkronik, dan diakronik.

Analisis Sintagmatik
Analisis sintagmatik berkonsentrasi pada hubungan antara kata dalam rangkaian atau urutan tertentu, seperti bagaimana kata “iman” muncul dalam beberapa kalimat atau ayat Al-Qur’an. Analisis sintagmatik juga melihat konteks di mana kata tersebut digunakan, kata-kata yang sering muncul bersamanya, dan struktur kalimat.
Misalnya, dalam Al-Qur’an, kata “iman” sering dikombinasikan dengan kata-kata seperti “amal”, yang berarti perbuatan, “sadaqah”, yang berarti sedekah, dan “Allah”.
Contoh dalam QS. Al-Kahfi:88
وَاَمَّا مَنْ اٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهٗ جَزَاۤءً ۨالْحُسْنٰىۚ وَسَنَقُوْلُ لَهٗ مِنْ اَمْرِنَا يُسْرًا ۗ
“Adapun orang yang beriman dan beramal saleh mendapat (pahala) yang terbaik sebagai balasan dan akan kami sampaikan kepadanya perintah kami yang mudah-mudah”.
Dalam ayat ini kata “aamana” (orang yang beriman) diikuti oleh “wa ‘amila sholiha” (dan mengerjakan amal saleh), menunjukkan bahwa dalam struktur sintagmatik ada hubungan erat antara keimanan dan perbuatan baik.
Analisis Paradigmatik
Sebaliknya, analisis paradigmatik berkonsentrasi pada bagaimana kata-kata dalam sistem bahasa secara keseluruhan berhubungan satu sama lain, seperti bagaimana kata “iman” berhubungan dengan kata-kata lain yang memiliki makna atau fungsi yang sama atau berbeda.
