Analisis Sosiologis “Arbabun Mutafarriqun” dalam Masyarakat Kontemporer

Dalam kajian sosiologi agama, konsep politeisme dan monoteisme telah lama menjadi subjek diskusi. Namun, perkembangan masyarakat modern telah memunculkan bentuk-bentuk baru “objek pemujaan” yang menarik untuk ditelaah.

Tulisan ini akan mencoba menganalisis fenomena tersebut dengan menggunakan perspektif Al-Qur’an Sura tYusuf ayat 39 sebagai titik awal refleksi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Istilah “Arbabun Mutafarriqun” atau “tuhan-tuhan yang terpencar” dalam Al-Qur’an dapat diinterpretasikan secara kontemporer sebagai bermacam-macam bentuk ketergantungan dan pengkultusan dalam masyarakat modern. Manifestasi fenomena ini, meliputi beberapa aspek yang akan dibahas lebih lanjut dalam artikel ini.

Pertama, fenomena “keakuan” atau individualisme yang berlebihan dapat dipandang sebagai bentuk pengagungan diri yang mengesampingkan nilai-nilai kolektif dan transendensi. Dari perspektif sosiologis, hal ini dapat dilihat sebagai respons terhadap modernitas dan globalisasi yang tampak amat sangat paradoksial. Individualisme ekstrem ini mencerminkan pergeseran nilai dalam masyarakat kontemporer.

Dalam ajaran Islam, keakuan biasa dikenal dengan istilah “anaiyah” yang seringkali dipandang sebagai sifat negatif yang perlu dihindari atau dikendalikan. Hal ini karena Islam mengajarkan pentingnya kerendahan hati, pengabdian kepada Allah, dan kepedulian terhadap sesama.

Tinggalkan Balasan