Analisis Sosiologis “Arbabun Mutafarriqun” dalam Masyarakat Kontemporer

Keakuan yang negatif, dapat mengarah pada penafian Tuhan dan merupakan bentuk ekstrem dari egosentrisme dan kesombongan. Dalam konteks ini, keakuan menjadi suatu kondisi di mana seseorang menempatkan dirinya sebagai pusat dari segala sesuatu, bahkan hingga tingkat yang dapat mengabaikan atau menolak keberadaan kekuatan yang lebih tinggi.

Kedua, revolusi digital telah menciptakan bentuk ketergantungan baru pada teknologi. Studi-studi psikologi dan neurosains menunjukkan bagaimana teknologi dapat mempengaruhi pola pikir dan perilaku, bahkan menciptakan kecanduan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Seperti misalnya, fenomena “phubbing” (mengabaikan orang di sekitar demi gadget) adalah contoh nyata bagaimana teknologi bisa menjadi “tuhan” yang mendikte perilaku sosial kita.

Ketiga, pemujaan terhadap figur publik. Hal ini dapat dilihat sebagai manifestasi modern dari kebutuhan manusia akan tokoh panutan. Pengkultusan selebriti ini menarik untuk dikaji dari sudut pandang psikologi sosial dan teori identitas yang mencerminkan pergeseran dalam struktur sosial dan sumber nilai dalam masyarakat kontemporer. Sebab, Fans fanatik seringkali meniru gaya hidup, penampilan, termasuk juga pola pikir idola mereka tanpa filter kritis.

Beberapa orang rela melakukan apa saja demi mendapatkan perhatian dari selebriti favoritnya, bahkan mirisnya terkadang hingga mengabaikan kebutuhan dan prioritas pribadi mereka sendiri.

Tinggalkan Balasan