Anomali di Bulan Suci

Bagaimana kita membaca anomali ini? Pergerakan pasar dan data survei itu bisa saja menunjukkan bahwa berpuasa ternyata tak mengurangi volume konsumsi makanan, dan justru cenderung meningkat. Yang terjadi hanya pergeseran waktu menyantap makanan, yang bisa saja volumenya lebih banyak dan jenisnya lebih beragam. Puasa akhirnya hanya tentang mengubah pola makan, bukan bagaimana mengendalikan nafsu untuk menelan semua yang bisa ditelan. Mungkin, tanpa kita sadari, apa yang tersaji di meja makan kita ketika berbuka atau sahur justru lebih banyak dan lebih beragam dibandingkan dengan hari-hari biasa.

Jika ini benar, apakah kondisi ini sesuai dengan tujuan sebenarnya untuk apa kita berpuasa? Entahlah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Anomali lain adalah “larangan ini-itu” di bulan Ramadan. Ini semacam deklrasi bahwa yang puasa bukannya khusyuk dengan puasanya, melainkan malah sibuk mengurusi mereka yang tak berpuasa. Kita lupa bahwa banyak orang yang berhalangan untuk berpuasa. Kita lupa bahwa banyak orang yang tak terikat dengan kewajiban untuk berpuasa. Dan semua yang tak berpuasa harus menghormati dan menghargai yang berpuasa, dan tak ada yang sebaliknya.

Maka, kita mendengar seorang tukang bakso yang sedang mencari rezeki di bulan suci ini harus menutup warungnya di siang hari dan kemudian harus disanksi. Tukang bakso itu tak sendiri. Ribuan, bahkan mungkin jutaan orang yang mengalami nasib seperti tukang bakso itu. Kita yang berpuasa, tak hanya menutup pintu rezeki mereka, tapi juga menyulitkan orang-orang lain yang tak berpuasa. Dan fenomena seperti ini selalu berulang setiap tahun.

Tinggalkan Balasan