Metode kecintaan yang melebihi batas pada sikap fanatisme kadang malah melegalkan kebencian, pertikaian, hingga pembunuhan (terorisme). Agama yang seharusnya mengajarkan cinta kasih secara universal dilucuti oleh sebagian kelompok yang seolah merasa berperilaku membela ajaran agama.
Kebencian mudah diajarkan dan ditularkan kepada orang lain. Sementara mengajarkan cinta butuh etos untuk sama-sama berkorban menyatukan perbedaan. Kebencian yang terlalu panjang menyebabkan perpecahan dan harus menjadi kesadaran masyarakat yang mencita-citakan kesejahteraan dan nilai-nilai keadilan. Kebencian bukan hanya menyiksa batin seseorang, namun juga kondisi sosial yang penuh penderitaan.

Mencintai adalah relasi paling suci dan agung di alam semesta. Tuhan menciptakan manusia karena cinta, semesta bergerak karena cinta, dan peradaban berkembang karena cinta. Mencintai itu perkara mudah karena cinta merupakan modal dasar yang dimiliki manusia. Namun kadang manusia tidak bisa menakar kadar cinta yang perlu diekspresikan.
Fanatisme adalah jebakan kecintaan yang membuat kesumpekan emosi, kecacatan berpikir, dan kegagalan membaca realita sosial. Dari fanatisme kadang menciptakan konflik yang berujung pada perceraian, putus tali persaudaraan, dan peperangan. Apalagi fanatisme yang sudah tidak lagi melihat kesempurnaan atau kebaikan objek yang dicintai, melainkan melihat keburukan objek yang dianggap menyaingi atau mengalahkan objek yang dicintai.
Hasilnya adalah kebencian dan ajakan kebencian yang dikemas dalam narasi politis. Membicarakan keburukan orang atau kelompok lain menjadi budaya yang menggairahkan, sementara menceritakan kebaikan orang atau kelompok lain dianggap sesuatu yang tabu untuk dibahas. Mungkin suatu saat, dunia sudah tidak lagi mengenal cinta selain kebencian dan penindasan.
