Antusiasme Simbolik dan Masalah Pendidikan Islam

Seseorang dengan keluasan wawasan dan kepakaran Islam sering mendapat label ‘sesat’ atau liberal bila mengutarakan pendapat soal masalah sosial-keagamaan. Islam yang umumnya dikenal adalah kode moral baku. Bila Islam tersaji secara argumentatif, lentur, dan analitik, rasanya terdengar asing bagi audiens pendidikan Islam arus utama, karena imajinasi agama yang popular adalah agama sebagai instrumen petunjuk instan, bukan instrumen yang njlimet dan bersahabat dengan filsafat.

Secara ekonomi politik, penduduk muslim Indonesia terbukti terpinggir dibanding sekelumit orang dari kalangan umum atau non-muslim dalam hal penguasaan sumber daya ekonomi dan politik strategis. Sentimen populis, narsisme primordial, dan romantisme kebangkitan umat mengendap karena keterpinggiran tadi. Hal ini juga diperdalam oleh pendidikan Islam arus utama dengan cara mengulang-mengulang imajinasi agama sebagai instrumen baku, namun secara bersamaan juga memiskinkan wawasan sosial audiensnya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Audiens dari pendidikan Islam khusus, seperti madrasah dan pesantren, sering terusik oleh kegaduhan pendapat-pendapat yang miskin wawasan sosial. Terbiasanya kalangan pesantren dengan ‘dapur’ dan proses memasak suatu pendapat dan pandangan keagamaan membuat mereka jauh lebih tenang dan lentur dalam membaca isu sosial. Tetapi, ini bukan berarti mereka kebal untuk tidak terlibat dalam polemik simbolik atau isu-isu permukaan.

Kalangan pesantren memang memiliki khazanah sosial-keagamaan yang luas dan mapan, namun sebagian besar di antaranya terporsi pada masalah kebangsaan, nasionalisme, gender, dan sisanya soal fiqh ubudiyyah. Khazanah soal mawas diri, mindfulness, atau kehati-hatian dalam berucap dan bersosial yang revelan dengan kondisi era digital juga tidak kurang.

Akan tetapi, kemajuan zaman yang bernama digitalisasi memiliki mekanisme tersendiri dalam mengorek sentimen terdalam dan membebaskan banalitas seseorang, tanpa disadari atau disesali oleh individu yang bersangkutan. Bila audiens pendidikan Islam arus utama terpancing karena miskinnya wawasan sosial, maka kalangan pesantren terpancing karena terkecoh oleh ekologi polemik yang ada di jagat maya.

Pesantren memang mengklaim sebagai pewaris institusi pendidikan Islam klasik, namun tidak semua tradisi keilmuannya terwarisi. Salah satunya adalah tradisi translasi buku-buku asing, yang lumrah di institusi pendidikan Islam klasik, namun belum tentu di pesantren.

Ketika wacana keilmuannya banyak terfokus pada isu kebangsaan, nasionalisme dan sejenisnya, maka isu lain seperti ketenagakerjaan, peminggiran hak minoritas, eksploitasi alam dan manipulasi teknologis cenderung terspesialisasi oleh segelintir santri yang “terpapar” buku-buku asing di perguruan tinggi, namun belum tentu memberikan pengaruh pada pembaruan kurikulum pesantren. Penyebabnya bisa karena sungkan, bisa juga karena ada resistensi dari elite pesantren.

Resistensi biasanya muncul sebab adanya keyakinan bahwa pesantren adalah tempat pembekalan moral dan akhlak, bukan tempat eksperimentasi ilmu atau wawasan. Adapun, pengembangan ataupun improvisasinya diserahkan sepenuhnya pada kreativitas santri.

Sayangnya, akhlak dan moral di pesantren lebih ditanamkan sebagai doktrin mutlak, bukan sesuatu yang terbuka untuk diuji, didialektikakan, ataupun diperkaya dengan khazanah-khazanah baru.

Ketika berhadapan dengan digitalisasi, doktrin itu digunakan sebagai pedoman navigasi utama. Kalangan pesantren sadar bahwa khazanah soal digitalisasi sangat penting untuk masa kini. Tapi mereka juga sadar bahwa khazanah sosial-keagamaan mereka juga butuh dilengkapi lebih dalam bila untuk membedah digitalisasi secara tuntas.

Tinggalkan Balasan