Anugerah Ramadan

Semua karyawan sebuah toko di Jalan Mayjen Sungkono Surabaya dikumpulkan untuk menerima pesangon. Toko yang telah berdiri puluhan tahun itu memutuskan tutup karena tidak mampu bersaing dengan toko-toko daring yang menawarkan harga lebih murah. Di tengah-tengah antrean, Erna melemparkan pertanyaan kepada Yono, suaminya.

“Bagaimana nasib kita, Pa?”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Kita hanya bawahan, bisanya hanya menurut sama bos.”

“Aku paham, masa kita setelah ini nganngur di rumah. Lama-lama pesangon kita bisa habis.”

“Coba kamu jualan online kaya Bu Yeti, siapa tahu bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari. Sementara untuk menunggu panggilan kerja, aku akan menjadi ojol.”

Usai menerima pesangon, mereka mengeksekusi rencana. Tapi apa daya, rencana mereka tidak sesuai harapannya. Pesanan ojek daring Yono sepi karena masa pandemi. Toko daring Erna kalah bersaing dengan distributor besar. Akibatnya pesangon mereka semakin menipis.

“Sepertinya Mama harus menitipkan Tofa di kampung agar kita bisa bertahan hidup.” Saran Yono kepada Erna.

“Apa tidak ada jalan lain, Pa?”

“Aku rasa semua jalan sudah aku jalani. Aku sudah bekerja di bengkel Pak To, malamnya jadi ojol. Mama juga bekerja sambilan sebagai ART. Tetapi setelah kuhitung-hitung masih besar pasak daripada tiang. Coba titipkan Tofa di rumah ibu Mama di kampung. Dengan begitu, kita bisa leluasa bekerja lembur atau serabutan tanpa kepikiran kondisi Tofa di rumah.”

“Tapi, Pa…”

“Mama harus melakukan sekarang, nanti jika mendekati lebaran dilarang pulang kampung. Uang kita sudah tidak cukup untuk memenuhi bulan ini jika kita masih seperti ini.”

Dengan perasaan terpaksa, Erna menuruti saran suaminya. Ia menyadari, menitipkan Tofa yang berusia sepuluh tahun kepada ibunya adalah pilihan terbaik kali ini.

Sebelum azan subuh, Erna dan Tofa berangkat ke Terminal Bungurasih. Erna berniat menitipkan Tofa kepada Solik, neneknya, yang berada di Sumbermiri, Lengkong.

*

Sebagai pedagang pasar, Solik terbiasa bangun sebelum fajar menyingsing. Selepas sahur, ia selalu menyempatkan salat di sepertiga malam untuk bermunajat kepada Allah. Selepas itu, ia membaca Waqiah selagi menunggu salat subuh. Jika itu semua selesai barulah ia bersiap berdagang di Pasar Sawahan. Tetapi hari ini berbeda dengan biasanya, raut  wajah Solik terlihat terburu-buru.

“Ini semua sepuluh ribu saja.” Tawar Solik kepada Rini, pelangganannya.

“Tujuh ribu ya? Lagian saya tidak butuh kacang dan kangkung sebanyak ini. Paling semua ini nanti aku bagikan ke tetangga saya.” Rini menawar.

“Baiklah.”

Rini merogoh dompetnya sambil berkata, “Mau ke mana sih Nek terburu-buru? Ini kan masih jam 6.30. Biasanya kamu tutupnya jam 9.00.”

“Nanti anak dan cucuku datang. Aku harus ada di rumah. Belum lagi aku harus belanja untuk berbuka nanti. Mumpung jam segini, semua lauk dan sayur masih ada di pasar.”

“Waktu berbuka kan masih lama. Mengapa buru-buru?”

“Aku sudah lama tak bertemu jadi tak sabar ketemu mereka.”

Solik sangat bahagia atas kunjungan anak dan cucunya. Sudah tiga tahun ini mereka tidak ketemu. Usai bercakap dengan Rini, Solik langsung berbelanja menu masakan dan jajanan pasar.

Dengan terburu-buru Solik berbelanja daging sapi, ayam, tahu, tempe, dan berbagai rempah untuk masakan bumbu bali, menu kesukaan Erna. Sesampainya di rumah, ia langsung mencuci beras kemudian memasukkannya ke sebuah penanak nasi. Kemudian ia merebus daging. Sambil menununggu daging empuk, ia meracik bumbu. Usai memasak, ia membersihkan kamar yang akan ditinggali anak dan cucunya. Kamar itu terlihat sederhana dengan dinding tembok yang mulai mengelupas. Tidak ada plafon di rumah itu. Jika memandang ke atas, terlihat genting yang disangga kayu reng yang terbuat dari bambu. Di kamar itu ada sebuah ranjang sederhana dari besi yang di atasnya ada kasur, bantal, dan guling dari kapuk.

Setelah semua sisi rumah bersih dan masakan sudah tersaji di meja makan, Solik sengaja menunggu mereka sambil merebahkan punggung tuanya pada sebuah lincak  yang berada di teras rumah. Detik begulir menjadi menit, menit berputar menjadi jam, di dalam rasa harap ia menunggu dengan tak sabar.

Tinggalkan Balasan