Dari kejauhan terdengar suara becak mesin yang mendekat ke rumahnya. Ia bergegas berdiri menuju jalan depan rumahnya, dengan senyum bahagia Solik menyambut anak dan cucu mendatanginya.
“Aku sudah lama menunggumu, Nak. Mengapa lama sekali?” tanya Solik dengan senyum ramahnya.

“Busnya lama ngetem karena mencari penumpang, Nek,” jawan Erna.
“Ini tadi aku sudah masak Bumbu Bali, kalian puasa tidak? Jika tidak ayo makan dulu.”
“Aku puasa, Nek. Tofa puasa setengah hari. Kamu mau makan sekarang atau nanti, Fa?”
“Aku ingin sosis bakar seperti yang di terminal, Ma,” pinta Tofa.
“Nenek sudah memasak sebanyak ini nggak baik mengecewakannya. Lagian di terminal sudah beli lima belas ribu,” timpal Erna.
“Aku nggak mau makan kalau nggak ada itu.”
“Makan dulu seadanya, nanti sore aku ajak ke Sawahan semoga saja ada penjual di sana.”
Jajan pasar yang dibeli Solik tidak disentuh oleh Tofa. Solik tetap khusnuzon, mungkin ia tak terbiasa makan jajan seperti itu sehingga tidak suka. Hati Solik berdoa, “Ya Allah sang pemilik hati cucuku, jadikan hatinya lebut.”
Sumbermiri jauh dari pusat keramaian. Desa ini terletak di ujung perbatasan antara Nganjuk, Bojonegoro, dan Lamongan. Jarak dari pusat keramaian satu-satunya, Pasar Sawahan, kira-kira 5 Km. Itu pun harus melewati jalan aspal yang rusak. Karena perjalanan ke Pasar Sawahan tidak nyaman, Erna berniat meminjam motor kepada Ismi, teman bermainnya waktu kecil. Ia bercerita kepada Ismi, bahwa ia butuh meminjam motor untuk mengantarkan Tofa membeli sosis bakar ke Pasar Sawahan.
Sepanjang perjalanan, Erna berpesan kepada anaknya, bahwa neneknya itu suka hidup dengan sederhana. Daripada membeli motor, neneknya lebih suka membeli kebun untuk menanam sayur. Neneknya juga tidak suka makanan cepat saji, seperti sosis, mie instan, roti, dan sebagainya. Maka dari itu, Tofa harus belajar hidup sederhana seperi nenek. Besok, Mama akan kembali ke Surabaya untuk mencari pekerjaan. Tofa harus tinggal bersama nenek sampai Mama dan Papa mendapatkan pekerjaan kembali.
Sebernarnya Tofa keberatan tinggal bersama nenek, tapi Erna mengatakan bahwa Papa dan Mama sedang hidup prihatin di sana. Keadaannya akan jauh lebih buruk dari kehidupan dengan neneknya di sini.
*
Belum genap seminggu, Tofa sudah bosan dengan menu makanan yang di buat neneknya. Karena ia terbiasa dengan menu cepat saji yang dibumbui MSG, masakan tradisional neneknya terasa hambar. Siang itu ia memutuskan untuk tidak makan. Karena kawatir, Solik bertanya.
“Kamu ingin makan apa, Nak? Nanti nenek masakan,” rayu Solik.
“Aku ingin makan kentucky. Aku sudah bosan makan tidak enak terus.”
“Apa itu kentucky? Aku baru dengar.”
Karena neneknya tidak tahu, Tofa mengambil gawainya. Ia lalu menunjukkan gambar ayam goreng yang dibalut dengan tepung. Solik mengira Tofa minta ayam goreng. Solik memutuskan untuk pergi ke tukang potong ayam yang berada di dekat Pasar Sawahan. Ia mengeluarkan sepeda tuanya. Belum lama mengayuh hujan gerimis mulai menapaki tanah.
Sesampainya di rumah, Solik langsung memotong ayam kemudian menggorengnya. Sambil menunggu matang, disempatkannya mandi untuk membersihkan dari sisa-sisa gerimis yang membasahi badannya. Setelah matang, ternyata ayam goreng yang dibuat Solik tidak sesuai dengan harapan Tofa.
“Bukan seperti ini, kentucky itu ada tepung gorengnya yang gurih, terus makannya pakai saos.”
Solik hanya terdiam mendengar omelan cucunya, dia hanya berdoa dalam hati ‘semoga Allah membaikan hati Tofa’. Selasai mengungkapkan rasa kesalnya, Tofa pergi meninggalkan Solik. Ia berjalan menunju sebuah bukit di belakang rumah. Ia bertemu anak seumurannya yang sedang membantu ibunya memanen jagung. Tofa sebenarnya tersenyum melihatnya, lalu ia mengeluarkan gawainya. Hati kecilnya ingin mengajak anak itu untuk bermain.
Karena melihat Tofa memiliki gawai, anak itu tertarik ingin bermain. Ia berlari mendekatinya.
“Bermain apa kamu?”
“Bermain FF, kamu punya akun FF?” tanya Tofa.
