Anugerah Ramadan

“Aku nggak punya gawai.”

Tofa terkejut, mengapa masih ada anak yang tidak punya gawai di masa sekarang ini. Tofa pun akhirnya berkenalan dengan anak itu. Ia bernama Agus. Sejak saat itu mereka berteman akrab.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

*

Seusai salat subuh, Solik mengumpulkam hasil kebunnya untuk dijual di pasar. Ia berniat mengajak cucunya ke pasar untuk menghibur cucunya.

“Nak, mau ikut nenek ke pasar? Siapa tahu di sana ada makanan atau mainan kesukaanmu.”

Tofa menjawab dengan anggukan.  Ketika hendak berangkat, Solik memberikan selembar uang dua puluh ribu.

“Ini uang sakumu hari ini, belikan apa saja yang kamu mau. Jika ada makanan yang kamu kehendaki untuk buka nanti sore, bilang saja. Nanti aku antar ke sana.”

Tofa mengangguk kemudian ia naik ke atas rengkek bambu. Ketika semua sudah siap, Solik mengayuh sepedanya menuju Pasar Sawahan.

Sesampainya di pasar, Tofa mengelilingi pasar. Tak disangka ia bertemu dengan Agus. Terlihat Agus yang sedang membantu ibunya berjualan kelapa. Orang tuanya sedang mengupas kelapa, sedangkan Agus bagian memecahkan kemudian menggiling kelapa-kelapa itu hingga menjadi parutan. Dengan semangat, Tofa pun mendekati temannya.

“Kamu tidak membantu nenekmu?” tanya Agus.

“Tidak, nenek tidak pernah meminta bantuanku.”

“Wah, enak ya jadi cucu kesanyangan. Coba aku sehari saja jadi kamu pasti bahagia. Ha-ha-ha….”

Mendengar perkataan teman akrabnya, Tofa terkejut.

“Kebiasaan anak sini itu membantu orang tuanya. Kalau ada anak dibiarkan bermain, berarti dia anak kesayangan.”

Setelah mendengar ucapan Agus, Tofa melemparkan pandangan di sekelingnya. Ia baru sadar, banyak anak yang sedang membantu orang tuanya. Sementara itu, nenek terlihat sedang duduk sendiri melayani pembeli.

“Nanti ajari aku main FF ya? Kalau sudah selesai perkerjaanku ini,” sambung Agus.

“Ya, nanti saja setelah pulang dari pasar.”

Dengan rasa bersalah, Tofa mendekati neneknya. Tofa baru menyadari, betapa sabarnya neneknya menghadapi sikapnya selama ini. Rasa penyesalan mulai memenuhi hatinya. Dengan rasa canggung, ia membantu neneknya memasukkan belanjaan pembeli.

“Eh, nenek bisa sendiri. Biarkan nenek saja yang melakukan.”

“Tidak mengapa Nek, aku sudah puas jalan-jalan ini tadi,” sahut Tofa.

“Nanti kamu capek, Nak. Biarkan Nenek yang melayani.”

Setelah pembeli pergi, Tofa merebut tangan kanan neneknya kemudian mengecupnya. Air matanya menetes tak tertahankan.

“Maafkan sikapku selama ini yang selalu menyakitimu, Nek.”

“Sikap yang mana, Nak? Aku tidak merasa kamu sakiti. Aku sudah bahagia kamu menemaniku di sini. Sudah lama aku dalam kesendirian. Dalam sujudku, aku selalu berdoa semoga Allah mengirimkan teman dalam masa rentaku ini. Kamu anugerah yang Allah kirimkan di Ramadan ini. Alhamdulillah, kubahagia karena Allah berkenan mengabulkan doaku. Aku tak ingin menyia-nyiakan amanah titipan-Nya.”

Mendengar perkataan itu, Tofa sangat menyesal tidak memahami kasih sayang yang diberikan neneknya kepadanya. Ia juga merasa kecewa telah berperilaku buruk kepada neneknya selama ini. Semenjak saat itu, ia berjanji akan membahagiakan neneknya.

Tinggalkan Balasan