Ar-Raudhah, Geliat Pesantren Terpadu di Sumenep

Pendidikan Madrasah Diniyah Takmiliyah Ar-Raudhah yang hanya berlangsung 90 Menit tiap hari dengan sistem semester, lebih mengutamakan Ilmu pengetahuan Agama. Seperti Ilmu Tauhid, Tajwid, Akhlaq, Tarikh, Fiqih, Ilmu Hadits, Khat Jamil, Nahwu dan Sorrof dan Bahasa Arab. Karena Bahasa Arab Lughatul Jannah (bahasa surga) Lughatul Quran (bahasa qur’an) dan Lughatus Sholati (bahasa sholat). Tujuan dari didirikannya untuk mencetak generasi penerus yang cerdas, inovatif dan berakhlaqul karimah sesuai nilai-nilai dan ajaran-ajaran Islam.

Salah satu pengajar di madrasah diniyah Pesantren Arraudhah, ustaz Usmuni, mengatakan, bahwa metode tahfizul qur’an yang diterapkan di Pesantren Arraudhah menggunakan metode murajaah (setelah hafal mengulangi kembali). Metode ini sangat cocok untuk anak usia belia, karena di pesantren ini santrinya beragam umur, mulai dari umur 7 tahun hingga belasan tahun.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Saat ini, jumlah santri yang mukim berkisar 150 santri, terdiri 50 santri putra dan 100 santri putri. Mereka berasal dari berbagai daerah yang ada di Kabupaten Sumenep, baik daratan maupun kepulauan.

Dilihat jumlah santrinya, memang pesantren ini termasuk pesantren kecil, sebagaimana pendapat, (Zamakhsyari Dhofier, Tradisi Pesantren, (Jakarta: LP3ES, 1994, h. 18 kalau melihat dari segi kuantitas pesantren ini kecil). Namun, dari segi kualitas pesantren ini sudah maju, karena penulis melihat sendiri betapa multitalentanya santri di bawah asuhan Kiai As’adi ini. Mereka bisa memimpin menjadi imam salat, tahlil, dan baca tartil dengan fasih.

Ketika penulis menemui salah satu santri yang bernama Dani, asal Lobuk, di teras Masjid Ar-Raudhah, dia mengatakan, “Saya mondok d isini sudah dua tahun. Alhamdulillah saya sekarang sudah hafal 8 juz. Tujuan saya menghafal Al-Qur’an untuk membahagiakan kedua orang tua. Selain itu, agar keduanya kelak akan dimasukkan surga oleh Allah, serta ingin mengumrohkan keduanya.”

Tinggalkan Balasan