Pernyataan itulah yang membuat hati penulis terenyuh. Sehingga mengingatkan penulis akan perkataan Kiai Syafi’ie Ansori, waktu mondok dulu, bahwa orang yang hafiz qur’an dapat menjamin 10 keluarganya kelak akan dimasukkan surga.
Jam menunjukkan pukul 4 sore, dan perbincangan antara penulis dengan Dani terus berlanjut. Penulis bertanya, “Ada berapa orang yang sudah hafal 30 juz?”

“Dari seluruh santri, baik putra maupun putri, sudah ada dua orang yang hafal Qur’an dengan tahqiq, Mistari Berasal dari Lobuk, Firdausi dari Kolor,” ungkap Dani kepada penulis.
Tidak hanya itu, dia merasa sangat bahagia mondok di sini, karena selain memperdalam tahfiz al-Qur’an, Ar-Raudhah juga fokus dalam kajian-kajian kitab kuning, seperti Ulum al-Qur’an, ilmu nahu, dan kitab-kitab lainnya. Jadwal kajian kitab kuning bergiliran setiap hari. Misalnya, jam empat sore ngaji Imriti dan Kailani, bakda salat Isya mengaji kitab Ulumul Qur’an yang dibimbing langsung oleh pengasuh.
Pondok Ar-Raudhah juga terbilang tertib dan menerapkan disiplin ketat. Santri yang melanggar tidak melaksanakan salat lima waktu, misalnya, akan disanksi dengan membersihkan kaca yang ada di pondok. Yang tidak salat tahajjud, sanksinya menyiram tanaman-tanaman di pondok. Tidak ikut kegiatan wajib, maka sanksinya membersihkan kamar mandi dan toilet-toilet pondok. Ada berkisar 11 jenis pelanggaran dan sanksinya yang perlu ditaati.
