Arah Kebijakan Transformasi Sistem Pembelajaran Pesantren

Lantas bagaimana idealnya? Hemat penulis, hal yang yang bisa diikhtiarkan adalah dengan memanfaatkan pada ranah kurikulum pesantren yang mengelaborasi teknologi. Para santri didorong untuk memiliki kecakapan di dunia digital. Dan pada saat yang sama, para santri terjun untuk berkontestasi dengan membawa narasi-narasi moderat, toleran, dan kebangsaan. Para santri dilatih untuk membuat narasi keagamaan dengan berbalut cover milennial, berbahasa populer, isinya simpel tapi berisi. Dan tentunya, tetap berdasarkan pada sumber-sumber yang kredibel dari khazanah turots. Konten-konten yang menarik, tidak berbelit-belit, seperti ini yang akan menarik daya pikat masyarakat digital.

Mengenai persoalan “pesantren digital” yang ditelah dijelaskan tersebut, hemat penulis bisa diubah dengan menciptakan “pesantren rumah”. Argumentasi “pesantren digital” yang diperuntukkan untuk masyarakat yang terkendala ruang dan waktu. Sehingga, ketika “ndalem pesantren” hadir di ruang digital maka akan memberikan impact positif. Padahal dengan segala imajinasinya, ruang digital tetap memosisikan diri pada dimensi yang berbeda, tidak berada pada interaksi langsung antara satu pihak dengan yang lain.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dalam aliran filsafat stoicism ada ajaran bahwa kita tidak bisa untuk mampu mengontrol orang lain (dimensi eksternal) karena tidak berada pada kendali kita. “Pesantren digital” akan tetap kurang efektif karena tidak berada pada kendali kita (dimensi internal) sepenuhnya, santri-santri digital tidak bisa dikontrol secara penuh.

Maka dari itu, untuk terus berperan ada baiknya mentransformasu gagasan “pesantren digital” dengan menciptakan “pesantren rumah”, rumah-rumahnya kita semua mari ciptakan bernuansa kepesantrenan dengan menerapkan manajemen pengelolaan dan metode pembelajaran seperti yang ada di pesantren. Kita yang masih menjadi santri maupun alumni, yang telah sadar akan pentingnya wawasan digital (memfilter, cek & ricek, tabayyun) mari tebarkan pada masing-masing anggota keluarga, dan visionernya, kita ajarkan pada dzuriyah-dzuriyah kita nantinya.

Para santri kini juga telah berjumlah sangat banyak dengan menyebar dari Sabang sampai Merauke. Mereka bisa diajarkan untuk menerapkan sistem kepesantrenan pada anggota keluarganya masing-masing. Implikasi yang terbangun dari anggota keluarga pun nantinya bisa menyebar ke masyarakat-masyarakat secara umum. Lebih jauh lagi, dampaknya bisa dirasakan ketika aktivitas di dunia maya akan lebih terjaga, dan terjadilah tatanan keberagaman yang sehat.

Inilah sekelumit mengenai digitalisasi pesantren yang tetap mengusung mempertahankan tradisi dalam merespons modernisasi. Ia akan tetap selalu membawa kebermanfaatan nilai dengan distingsinya. Wallahu’alam.

Tinggalkan Balasan