Asiah: Wanita Beriman di Selingkar Istana Kafir

Asiah binti Muzahim bin Ubayduddayyan bin Walid —yang mempunyai tempat istimewa di hati Firaun— merajuk kepadanya agar Musa diizinkan untuk diasuh dengan penuh kasih. Firaun tidak berkutik. Jika Asiah yang meminta, maka Firaun tidak punya jalan lain kecuali memenuhi permintaannya. Jadilah Musa kecil menjadi bagian dari kehidupan istana Firaun.

“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; ‘Susuilah Dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya Maka jatuhkanlah Dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kau khawatir dan bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang rasul. Maka dipungutlah ia oleh keluarga Firaun yang akan menjadi musuh dan Kesedihan bagi mereka di kemudian hari. Sesungguhnya, Firaun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah. Dan berkatalah isteri Firaun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu, janganlah kau membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat bagi kita nantinya atau kita jadikan ia sebagai anak”, sedang mereka tiada menyadari. Seketika itu menjadi kosonglah hati ibu Musa. Hampir saja ia membongkar rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hatinya, supaya ia termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah). Dan berkatalah ibu Musa kepada saudari Musa: “Ikutilah dia” Maka ia pun mengawasi Musa dari jauh, sedang mereka tidak mengetahuinya. Dan Kami cegah Musa menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusuinya sebelum itu; Maka berkatalah saudari Musa: “Maukah kau kutunjukkan sebuah keluarga yang sanggup memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?’ Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (QS al-Qashos: 7-13).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Asiah bukan wanita sembarangan. Ia mempunyai keteguhan jiwa dan ketangguhan nurani untuk melawan tiran. Baginya, keimanan jauh lebih penting daripada harta benda. Meski bergelimang emas permata, namun Asiah tidak peduli. Baginya, kehidupan akhirat jauh lebih utama daripada kehidupan dunia yang hanya sementara.

Keimana yang teguh dari wanita yang dipandang lemah, menunjukkan kenyataan yang istimewa. Meskipun bergelimang harta, keimanan tetap terpatri untuk kehidupan yang kekal. Bagi Asiah, derita di dunia tidak menjadi masalah. Asalkan di kehidupan akhirat nanti ia mendapatkan kebahagiaan yang abadi.

Namun, bagaimana pun cara Asiah menyembunyikan keimanan, pada akhirnya Firaun pun mengetahuinya. Maka meledaklah amarah Firaun. Kemudian ia memberikan dua pilihan, kufur dari Tuhan Musa, atau siksa pedih dari Firaun dan bala tentaranya. Asiah bergeming. Dengan penuh keyakinan, ia memilih siksa di dunia daripada nanti di akhirat ia menanggung dosa.

Tinggalkan Balasan