“Assafih fil Ma’had”

Saya: “Tilikono. Tenan. Wes ilang.” (Coba cek. Serius. Sudah hilang).

Orang yang duduk di majelis kalau menyaksikan kejadian seperti ini pasti tertawa, sebab teman kami yang safih ini menjawab setiap omongan saya dengan muka yang khas. Agak tertekuk-tekuk, dibumbui kejengkelan karena merasa dipermainkan, bercampur dengan melas karena sesungguhnya dia orang yang gampang percaya, bahkan meski mulutnya bilang sebaliknya. Memang, kalau sudah capai menanggapi, pasti mukanya berubah jadi melas. Saya tentu juga turut tertawa bersama teman-teman santri yang lain.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Banyak guyonan yang saya lakukan bareng teman yang safih ini. Rasanya akan panjang sekali kalau mau diceritakan semuanya. Oleh karena itu, cukup satu contoh kasus itu saja saya kira.

Sebuah Kabar Buruk

Menurut penuturan guru kami, murabbi ruh kami, Romo Kiai M Katib Masyhudi, “Santri yang safih di pondok itu selalu ada dalam setiap waktu.”

Mulanya kami tenang-tenang saja. Tapi kemudian suatu peristiwa terjadi. Teman kami yang safih itu tiba-tiba tidak ada di pondok. Kabar punya kabar, ternyata dia dikursuskan ke Magelang, mengikuti pelatihan-pelatihan membuat kerajinan tangan.

Walhasil, pernyataan Romo Kyai membuat saya dan santri-santri lain agak was-was juga. Sebab, beliau sempat menambahkan pernyataannya, “Kalau safih yang ada di pondok kita sudah pergi, siap-siap saja, mungkin salah satu dari kalian yang akan menjadi penggantinya.”

Yogyakarta, 2021.

Tinggalkan Balasan