“Assafih fil Ma’had”

Si safih teman kami adalah orang yang gampang emosi. Gampang percaya. Gampang dipancing untuk ini itu. Gampang tertawa. Gampang marah. Sering kali kami kalau sedang duduk di majelis menunggu kerawuhan ustaz, menyempatkan diri untuk guyonan bersama si safih.

Misal, saya katakan padanya, “Bos, rumahmu di mana?”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dia akan jawab dengan menyebut nama desanya. Lalu, saya akan berkata, “Jarene omahmu ilang lho.” (Katanya rumahmu hilang).

Pasti dia akan jawab, “Ah, ra mungkeeeeen!” (Ah, tidak mungkin).

Kalau sudah terpancing begitu, tinggal saya teruskan, “Wellah. Kok ra percoyo.” (Lah, kok tak percaya).

Safih: “Ora bakal!” (Tidak akan).

Saya: “Tenan. Omahmu keli.” (Rumahmu hanyut).

Safih: “Ora. Ora. Omahku isih ono neng KTP.” (Tidak! Tidak! Rumahku masih ada di KTP).

Tinggalkan Balasan