Asy’ariyah: Antara Rasionalitas dan Toleransi

Sebaliknya, tanpa peran akal, teks wahyu bisa disalahpahami secara literal, tanpa mempertimbangkan maqāshid (tujuan) dan konteksnya.

Hujjatul Islam Imam al-Ghazali menggambarkan hubungan ini melalui perumpamaan: akal dan wahyu ibarat mata dan cahaya. Cahaya tidak akan berguna bila mata tertutup, sebagaimana mata juga tidak akan berfungsi tanpa cahaya. Maka, sebagaimana mata membutuhkan cahaya untuk melihat, akal juga membutuhkan wahyu agar tidak tersesat.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Imam Abu Zahrah—seorang sarjana Muslim asal Mesir yang dikenal sebagai ahli sejarah agama-agama kuno, aliran pemikiran, dan teologi modern—menegaskan dalam bukunya Mafāhīm Yajibu an Tushaḥḥaḥ fī al-‘Aqīdah wa al-Fikr wa al-Sulūk:

“Unsur kekuatan Islam terletak pada fakta bahwa Islam adalah agama yang rasional. Semua perintah Islam didukung oleh logika akal sehat, dan segala yang dilarang oleh Islam pun diperkuat oleh rasionalitas. Hal ini berlaku untuk ketetapan yang bersifat individu maupun kolektif.”

Tinggalkan Balasan