Atas Nama Kebencian

Seperti sabda Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Anas r.a., Nabi bersabda: “Janganlah engkau semua saling benci dan membenci, saling dengki dan mendengki, saling belakang dan membelakangi, dan saling putus dan memutuskan suatu ikatan persahabatan atau kekeluargaan, dan jadilah engkau semua hamba-hamba Allah sebagai saudara. Tidaklah halal bagi seseorang Muslim kalau ia meninggalkan, yakni tidak menyapa saudaranya lebih dari tiga hari.” (Muttafaq ‘alaih).

Dari hadis tersebut kita bisa mendapatkan pelajaran berharga, bahwa interaksi individu dan kelompok tidak bisa dibangun atas dasar rasa benci dan caci maki yang berujung pada kerenggangan sosial atau relasi antara sesama. Teror kebencian di media sosial merupakan wajah suram yang sedang dihadapi bangsa Indonesia. Entahlah, kita akan melihat dari sisi mana. Yang terpenting semua ini perlu kesadaran bersama, setidaknya untuk memberikan ruang yang lebih adem, nyaman, dan tentu penuh dengan kasih sayang.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dari sini, pentingnya merenungi pesan agama yang mengarah terhadap kebaikan bersama, kemanusian, dan nilai-nilai luhur. Tanpa pemahaman yang luas terhadap pesan agama, mustahil kedewasaan kita bersikap dalam masyarakat akan terbentuk, lebih-lebih di media sosial. Kasus kecaman dari warga Thailand menjadi pelajaran di awal bulan Ramadan, yang seharusnya bisa menunda hal-hal buruk, menahan lapar, minum dan hubungan seksualitas, tetapi lebih dari itu bisa menahan jari untuk tidak mengetik sesuatu yang merugikan, menyakiti, dan mengancamkan kehidupan orang lain.

Tinggalkan Balasan