Maka, pada 1956 dibentuk suatu yayasan untuk menaungi seluruh kegiatan belajar mengajar yang bernama Yayasan Pembangunan, Pemeliharaan, dan Pertolongan Islam (YP3I). Lalu, pada 1962 didirikan Madrasah Menengah Attaqwa (MMA). Dua tahun kemudian, pada 1964, didirikan pesantren putri.
Dari perubahan itulah akhirnya berdiri kokoh Pondok Pesantren Attaqwa, Pondok Pesantren Attaqwa Putra dan Pondok Pesantren Attaqwa Putri, yang kini berdiri di atas lahan seluas 24 hektare. Selain mendidikan para santri, pendiri Pondok Pesantren Attaqwa juga menjadikan daerah Ujungharapan sebagai “kota santri”. Disebut demikian, karena pengaruh dari pesantren ini. Masyarakat di Ujungharapan diatur atau dibagi dalam wilayah-wilayah musala, yang nantinya akan berpusat ke masjid yang berada di Pondok Pesantren Attaqwa. Karena itu, warga Ujungharapan menandai lingkungannya bukan dengan istilah rukun tetangga dan rukun warga, melainkan dengan nama musala, yang berpusat pada masjid Pesantren Attaqwa.

Dan sepeninggal Kiai Noer Alie pada 29 Januari 1992, Pondok Pesantren Attaqwa ini terus dikembangkan oleh keturunan dan kader-kadernya. Pendidikannya juga terus mengalami perkembangan pesat. Kini, di lingkungan Pondok Pesantren Attaqwa dan di bawah naungan Yayasan Attaqwa terdapat 36 TK, 62 MI, 1 SDIT, 23 MTs, 13 SMP, 7 MA, 3 SMU, 1 STM, 1 SMK, Pesantren Tinggi Attaqwa (PTA) dan sekolah tinggi agama Islam (STAI).
