Menjadi bagian dari duniasantri.co merupakan suatu kehormatan. Artinya, kapabilitas literal yang saya miliki dihargai sebagai kreativitas yang dipandang sebagai sesuatu yang bermkna dan bernilai.
Karya literasi yang dimuat di laman duniasantri.co bukan sekadar nilai finansial. Tetapi juga mendapat tempat yang pantas untuk bersanding dengan penulis kawakan yang sudah malang melintang di dunia tulis menulis.

Saya mengenal duniasantri.co sekitar tahun 2020. Tepatnya pada 7 September 2020. Opini pertama saya dimuat dengan judul, “Santri, Sastra, dan Terapi Mental.“
Saya mengenal laman tercinta ini karena informasi yang disampaikan oleh K. Badrus Sholeh yang dikenal sebagai Raedu Basha. Penulis, penyair, ulama, dan pimpinan pesantren yang sangat progresif.
“Mas Rusdi, coba Sampeyan nulis di duniasantri.co,” demikian Raedu mengatakan kepada saya ketika saya berkunjung ke rumahnya.
“Kok saya baru dengar?”
“Ya, coba saja. Karena ada honor setiap karya yang dimuat.”
Mendengar informasi itu saya jadi semangat. Memang, sebelum rajin submit di duniasantri.co saya sudah sering berkirim karya tulis ke media lain. Baik yang cetak maupun elektronik. Tetapi di media-media tersebut tidak semuanya memberikan honorarium. Oleh karena ada info yang lebih menarik, saya semakin bergairah untuk ikut berproses di duniasantri.co.
Sekali saya berkirim naskah, di saat itu juga karya saya dimuat. Saya semakin semangat untuk menulis. Berikutnya saya berkirim cerita pendek. Dimuat pada 7 September 2020 dengan judulnya “Wajah Ibu di Bingkai Jendela”. Saya pun sangat berbunga-bunga. Ternyata tulisan saya paju (bersesuai) dengan redaksi duniasantri.
